Oleh Rudra Maitri, Divisi Konten Kamisinema

LATAR BELAKANG

Sebut cerita sebagai alat penyampai pesan. Sebut juga sebagai hiburan semata. Apapun alasannya, yang dituntut dari sebuah cerita selalu pengalaman mengikutinya dan kesimpulannya. Pengalaman mengikuti menjadi alasan pertimbangan menonton film secara langsung ketimbang mendengar ringkasannya saja lalu, kesimpulan, jawaban mengapa adegan-adegan yang telah kita simak harus terjadi.

Hasil yang dicapai penulis-penulis untuk memenuhi tuntutan tersebut membuahkan kekayaan palet. Walau, seiring abad berganti, formula-formula tertentu seperti struktur tiga babak menjadi patokan, mengatakan semua cerita memiliki formula yang sama terasa oversimplifying. Ini sama saja mengejek semua tim bola memakai formasi yang mirip atau semua koki memakai resep telur dadar yang sama. Kenyataannya, pengaplikasian selalu dibatasi oleh interpretasi dan jumlah tangan pelaksana sehingga ruang inovasi sebenarnya masih mungkin. Sayangnya, bukan berarti mudah.

Dalam naratif cerita ada yang disebut plot device. Konon kabarnya, plot device cenderung buruk reputasinya di meja bundar penulis karena… plot device adalah alat atau teknik apapun dalam naratif yang berfungsi memajukan plot. Sekali mengetahui teknik-tekniknya tidak ada lagi keajaiban karena rahasia sang pesulap telah bocor. Bocornya rahasia tersebut membuka jalan bagi pesulap-pesulap lain untuk mementaskan atraksi yang sama tetapi, ingat, satu hal yang diulang-ulang akan menimbulkan kebosanan atau dalam kasus ini, klise.

Kapas kursi film Get Out – Sumber: Blumhouse Productions / Universal Pictures (2017)

Ingat karpet di film klasik The Big Lebowski? Koper berisi uang No Country For  Old Men? Objek-objek tersebut bukan merupakan hal pertama yang penonton khawatirkan tetapi keberadaan mereka membuat karakter seisi film bergerak dari poin A ke poin B. Objek tersebut ternyata memiliki istilah, yaitu MacGuffin. Contoh lain dari plot device adalah Chekov’s Gun yang berbunyi “If in the first act you have hung a pistol on the wall, then in the following one it should be fired” dengan salah satu contoh aplikasinya terdapat di kapas kursi film Get Out, atau plot twist yang ternyata ada bahasa kerennya, yaitu Red herring. Contoh-contoh tersebut tidak definit jumlahnya karena keberadaannya bisa terus berkembang. Aplikasi dalam kenyataaan juga tidak sekasar analogi saya di paragraf sebelum ini di mana seolah-olah penulis mana pun yang ketahuan menggunakan plot device berarti malas dan merupakan akar penyebab plot device tersebut mati. Penggunaan plot device masih marak dan efektif. After all, kesalahan berseni tidak terjadi di teori, melainkan, aplikasi.

Tetapi, ada satu plot device yang jarang terbaca tapi berisiko klise setinggi Red herring. Plot device ini adalah… deus ex machina.

DEUS EX MACHINA

Bukan, bukan clothing line favorit ngabers tahun ajaran 2016/2017, kita sedang berbicara yang makna harfiahnya jenis plot device di mana momen jalan buntu film teratasi berkat kejadian yang tak terduga. Kejadian tak terduga ini biasanya berupa suatu keberuntungan, tipe keberuntungan yang hanya mampu dicapai lewat ibadah. Ini cukup menarik, karena istilah deus ex machina sendiri datang dari cerita-cerita drama teater Yunani Kuno dan Roma di mana kehadiran Tuhan selalu menjadi solusi segala masalah. Mudahnya, ketika seorang karakter tersudut, dalam hitungan detik datang bala bantuan.

Momen tersebut adalah ketika Jon Snow bersama aliansinya berada di ambang kematian Battle of The Bastards serial Game of Thrones, belasan kali lipat pasukan Knights of The Vale datang memutar-balik takdir. Begitu pula kehadiran Wonder Woman men-tameng laser Doomsday yang nyaris membunuh Batfleck di Batman V Superman: Dawn of Justice. Saya kira, kedua adegan tersebut cukup menjelaskan apa efek yang deus ex machina bisa berikan, yaitu: menggerakkan plot dan mempertegang kemudian mengejutkan penonton.

Tetapi, yang akan kita bahas hari ini hanya fungsi penggerak plotnya karena, tampaknya, fungsi ini yang masih sering dibiarkan pemakaian sembarangannya.

TEMPAT KEPUTUSASAAN DAN CARA MEMBUJUK ORANG-ORANG DI DALAMNYA UNTUK KELUAR

True Grit (2010) menceritakan bocah berumur 14 tahun bernama Mattie Ross (Hailee Steinfeld) yang menyewa seorang deputi bernama Rooster Cogburn (Jeff Bridges) untuk mencari pembunuh ayah Mattie, Tom Chaney (Josh Brolin). Pencarian Tom didampingi oleh LaBoeuf (Matt Damon), utusan otoritas yang juga mencari Tom atas dakwaan pembunuhan lain. Hubungan antara tiga karakter (Mattie, Rooster, & LaBoeuf) menjadi inti film. Mattie maunya begini, Rooster maunya begitu, LaBoeuf memiliki perbedaan pandangan dengan Rooster, Rooster bertingkah kekanak-kanakan, semua keegoisan menjadi kendala yang melelahkan ketiga karakter hingga tujuan utama mereka perlahan terlupakan. Temperatur beranteman ketiganya mencapai breaking point hingga mereka berpisah. 

True Grit – Sumber : Skydance Productions / Paramount Pictures (2010)

Mereka berpisah. “Terus, misinya gimana? Udah gitu di-cancel aja gara-gara ribut urusan yang sepele? Mattie-nya gimana? Enggak jadi balas dendam dong? Kalau lagi pada egois gini, gimana ceritanya bisa maju ya entar? kan durasi masih setengah jam…” Pertanyaan-pertanyaan ini bergejolak, saling bertabrakan di kepala para penonton dalam hening. Mulut menganga ditambah rasa gatal ingin melanjutkan sendiri misi terbengkalai tersebut atau mengonsolidasi para karakter.  Keputusasaan. Bahkan effort terkeras secara faktual sudah tak ada gunanya, yang telah terjadi telah terjadi. Lalu, esok paginya… Mattie yang sedang mengambil air di sungai “tanpa” disangka bertemu Tom! Mattie mengambil kesempatannya untuk membunuh Tom tetapi gagal sehingga kemudian Mattie yang tak berdaya diculik oleh Tom. Rooster dan Labeouf tanpa pikir panjang langsung mengesampingkan ego dan perbedaan mereka untuk berjuang mendapatkan bocah 14 tahun itu kembali. Singkat cerita, Mattie selamat, kini keeratan mereka lompat dari saling benci hingga teman seperjuangan. 

Tempat keputusasaan adalah seorang penjual narkoba yang pintunya didobrak polisi tengah mengulurkan tangan yang memegang bubuk putih kepada konsumen di depannya, mereka dipisahkan meja yang lengkap dengan properti tipikal seperti timbangan dan kalkulator, dibumbui detail tumpukan barang bukti di belakang kursinya. Tidak akan ada kalimat defense yang bisa keluar karena bukti di sekitar tidak ada yang bisa meng-validasi. Sulit menerima lini hidup 20 tahun ke depan yang sudah ia hitung baik-baik baru saja musnah satu detik yang lalu. Untuk sekarang, tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti kemanapun pihak berwenang menggiringnya. Mungkin sekarang ia sedang di penjara, melipat baju, tetapi pikirannya selalu berada tempat lain. Mimpinya selalu terhalang oleh langit-langit kamar. Kemarin, besok, dua minggu lagi, dua tahun lagi tak akan ada bedanya dengan hari ini, hanya keajaiban yang bisa mengubah semuanya. 

Konfilk batin tersebut indah. Sangat menyakitkan, peperangan yang terjadi di dalam hati si penjual narkoba. Layak seorang seniman ulung yang terpaksa menjadi seorang akuntan guna menyambung hidup, sakit menahan rasa sakit. Sangat tidak enak bukan? maka… rasa ini harus sampai kepada penonton. Ini dia, kesalahan True Grit, (menurut saya, tentunya,) belum sempat penonton ikut merasa, berefleksi, hingga mengalami perubahan, tahu-tahu sudah datang saja keajaibannya (Mattie diculik Tom). Keajaiban tersebut memberi resolusi yang enak bagi Mattie tapi tidak bagi penonton. Sangat disayangkan film yang sisa durasinya nihil kecacatan harus dibuang karena satu bagian berdurasi pendek memutuskan untuk terburu-buru. Deus ex machina telah menodai katalog dynamic duo kesayangan kita, The Coen Brothers, dan ia tak berhenti di mereka. 

Minari’s House Fire – Sumber: Plan B Entertainment / A24 (2020) via Instagram

Jonah Hill juga terpapar di film perdananya, Mid90s. Mirip sekali dengan True Grit, tensi kegengsian yang belum berbuat apa-apa terhadap perubahan karakter disudahi dengan kecelekaan mobil. Di film indie langka La La Land, jangka waktu lama yang Mia habiskan di rumah orangtua setelah lepas tangan dari mimpinya menjadi aktris hanya sampai ke penonton dalam bentuk laporan kegiatan. Penyebabnya, kemunculan gejala paparan berupa panggilan casting yang terjadi beberapa detik setelah montase standar yang dimaksudkan untuk mewakili jangka waktu Mia di rumah orangtua. Lalu, yang ter-update, Minari, kebakaran rumah yang menyesuaikan waktu mendekati perceraian keluarga. Bisa dilihat bahwa rupa “kehadiran Tuhan” di film-film tersebut adalah urusan yang lebih prioritas. Entah itu kesempatan besar, nyawa seseorang, atau duka, hanya momen-momen seperti itu yang mampu membujuk manusia dari egois menjadi rasional. Momen-momen seperti itu adalah solusi mengompakkan keluarga disfungsional. Benar, realistis, tapi… memangnya seberapa sering sih momen-momen itu terjadi dalam satu garis waktu manusia? 

OPSI PERBAIKAN

Jelas bias, tapi ini mengapa saya suka resolusi film yang penjahatnya menang. Perspektif ini bisa membuka diskusi yang sama luas dengan film normal, bahkan lebih menarik. Lepasnya “penjahat” menyimpulkan bahwa semua adegan yang telah terekam sia-sia. Kesia-siaan tersebut memberi kekuatan kepada penjahat ini. Sebut judul-judulnya, Memories of Murder, Army of Shadows (favorit saya), Tokyo Story, Zodiac, dan masih banyak lagi. Menurut saya, melepaskan penjahat lebih kuat serangannya daripada mengalahkan mereka karena melepaskan mereka berarti memperlihatkan perlakuan mereka kepada publik sementara mengalahkan mereka berarti berfantasi layak balita mengadu dua mainan. Tapi ingat, ini hanya satu cara untuk melihatnya. Film Promising Young Woman bercerita tentang aksi heroik mengadili perilaku pemerkosaan. Ya, pada akhirnya pemerkosa kalah tetapi representasi dunia nyata yang membentuk plot film ini sangat akurat. Pemerkosa bersama pendukungnya diberikan cara tutur yang sangat normal ketimbang menyeramkan, lalu wanita kalah ketika beradu fisik dengan pria sehingga detail-detail ini memberikan refleksi yang sama menyeramkannya dengan ending “penjahat menang” tadi.

Tapi, mari memperbaiki yang ada sebelum berpindah. deus ex machina, bagaimana aplikasi yang baiknya? Tak usah jauh-jauh, jawaban ada di depan mata kita semua. Kita kembali memuja bapak film bro internasional, Quentin Tarantino.

Once Upon A Time In… Hollywood – Sumber: Columbia Pictures / Sony Pictures (2019)

Once Upon A Time… In Hollywood (OUATIH) memberikan persis hal yang saya hausi dari deus ex machina, yaitu ekstensi durasi momen rock bottom. Bahkan, bisa dibilang, OUATIH mendedikasikan keseluruhan filmnya kepada plot device tersebut. Singkatnya, OUATIH menceritakan Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) yang karirnya sebagai aktor semakin buruk, ditandai dengan tawaran-tawaran film yang semakin tidak menjanjikan dari segi jumlah dan tipe. Di awal film, aktris Sharon Tate (Margot Robbie) diceritakan baru saja pindah di sebelah rumah Rick dan menurut Rick berteman dengannya bisa memulihkan karir Rick. Singkat cerita, kita hadir di momen terpojok sebelum deus ex terjadi. Dengan gaya narator seperti membaca jurnal ekspedisinya sendiri, dijelaskan secara detil kronologi mirisnya hidup Rick selama enam bulan. Dimulai dari menerima peran-peran yang ia tak mengerti, hanya memiliki empat film lagi, tak mampu membiayai asistennya, dan banyak lagi detil-detil tak perlu. Film ini tak membuat enam bulan itu singkat. Dalam durasinya, Rick bertambah berat badan, berganti gaya rambut, gaya berpakaian, latar tempat yang berpindah-pindah, dan, yang terpenting, banyak menunjukkan hilangnya harapan di mata Rick. Hingga tiba di malam hidupnya berubah, di mana kelompok hippie Charles Manson yang berusaha membunuh rumah tangga Rick dibantai oleh asisten/stunt double Rick, Cliff Booth (Brad Pitt) yang pada akhirnya berhasil mencuri perhatian Sharon Tate untuk mengundang Rick berkunjung ke rumahnya. Saya tidak tahu apakah anda sudah menonton film ini, tetapi seperti yang kita tahu, tak hanya bagian rock bottom tersebut berdurasi 20 menit lebih sendiri, tetapi juga terasa seperti film sendiri. Dari pembawaannya, babak ini sangat terasa seperti membuka bab kehidupan baru. Penekanannya adalah, suka atau tidak suka, Rick sudah siap menerima kehidupan miris yang mendatang. Awal yang baru ini merupakan buah hasil siksaan enam bulan yang Rick alami… kurang lebih seperti interogasi. Jika keajaiban hanya mampu terjadi bagi yang hidup, maka lebih baik hidup tersiksa daripada mati. Dan, seberat itulah keputusasaan yang penonton bisa ikut rasakan karena Tarantino memberi banyak waktu.

Hal yang serupa terjadi pula di Breaking Bad episode finale, menunjukkan pola hidup baru Walter White (Bryan Cranston), karakter utama serial, pasca mengasingkan diri karena menghancurkan hidupnya sendiri. Dan, dengan bangga, terjadi juga di Avengers: Endgame. Tak disangka datang harinya saya berjabat tangan dengan MCU, menggunakan mereka sebagai referensi what to do. Momen duka yang memukul para pahlawan benar-benar diberi waktu hingga mereka berubah. Dialog-dialog berduka dengan tona serius, “5 years later”, terapi komunitas, bagaimana dunia menanggapi dan menyesuaikan pasca-petikan-Thanos secara sistem dan mental, semua hadir agar penonton bisa ikut merasakan experience trauma mereka sebelum kembalinya Ant-Man yang menjadi titik mulai bergeraknya film.

PENUTUP

Dalam kasus deus ex machina ini, pemberian waktu kepada plot yang tidak bergerak adalah penting. Memang mudah menanam rasa dalam hati penonton tetapi menumbuhkannya butuh perawatan dan kesabaran. Analogikan seperti tidur, tidak produktif bukan berarti tidak penting. Apa artinya siang tanpa malam? Malam juga punya nyawa, berbicara dalam mimpi-mimpi yang malu ditempatkan di bawah sorotan sinar matahari. Tak ada yang tahu apakah besok kita akan bangun tetapi setidaknya tidur malam ini kita dedikasikan untuk kesehatan tubuh.