Oleh Indigo Gabriel Zulkarnain, Divisi Konten Kamisinema

Netflix Indonesia mengkonstruksi sebuah program apresiasi film baru untuk menyambut hari film nasional lalu. Sebuah terobosan yang sangat menarik dari Netflix Indonesia. Bagi saya menarik untuk mengenal lebih jauh lagi sutradara-sutradra dalam negri ketika berbicara mengenai film dan dampaknya secara universal. Secara pribadi saya sangat mengapresiasi upaya Netflix Indonesia dengan kontribusinya dalam industri dalam negri. Garin Nugroho datang dengan essaynya yang menarik untuk disandingkan bersama dengan essay Scorsese yang sempat saya bahas awal maret lalu. Keduanya membahas topik yang serupa, menarik untuk melihat bagaimana kedua maestro sinema ini menanggapi kehadiran the new kid on the block, layanan streaming berlangganan.

Sumber : Instagram

Dalam menyambut hari film nasional lalu, Netflix Indonesia mempublikasi beberapa tulisan filmmaker dalam negri. Bertakjub “Zinetflix”, nama-nama beken seperti Yosep Anggi Noen dan Joko Anwar ikut berkontribusi memberikan tulisan dan wawancaranya. Namun nama yang paling menarik perhatian saya adalah Garin Nugroho, godfather sinema dalam negri.

Essaynya yang berjudul “Film Indonesia, OTT, dan Gaya Hidup Baru” membahas secara ekstensif tentang keaadaan pergerseran budaya baru masyarakat Indonesia mencari hiburannya, layanan streaming Over The Top. Ia mengaitkan budaya menonton baru ini dengan pandemi yang secara langsung ikut membantu pergeseran budaya menonton masyarakat. Tulisannya secara lengkap dapat dibaca di akun Instagram @netflixid.

Sumber : Kapanlagi

Garin menjabarkan fakta-fakta kebiasaan masyarakat Indonesia dalam memilih hiburan berbayarnya, semuanya berkaitan dengan hadirnya layanan streaming berlangganan. Banyaknya data yang disajikan, juga cara netral Garin menulis, memberikan kesan kepada saya bahwa tulisan Garin ini menjadi PSA bagi filmmaker dalam negri untuk mulai mengkonstruksi filmnya sehingga cocok pada pasar layanan streaming berlangganan. Entah ini bias karena ia menulis untuk Netflix atau tidak, saya berkonspirasi dan menyimpulkan bahwa tulisan ini menjadi respon Garin menanggapi essay Martin Scorsese tentang kematian sinema karena streaming service. Timingnya sangat dekat. Kedua tulisan tersebut merespon banyak hal yang berkesinambungan, membuat kepala saya – secara tidak langsung —  mengkorelasikan tulisan kedua tulisan maestro sinema tersebut. Garin duduk disini dan memberikan analisa pasar untuk mersepon hadirnya wahana alternatif menonton, disaat snob tua Scorsese itu melibat habis kehadiran algoritma Sumber_ Kapanlagitontonan yang dimiliki ott.

Sumber : Victoria Will – Invision – AP

Agak canggung bila membandingkan kedua leading man cinema diranahnya masing-masing ini. Garin tidak segan-segan menyebut film sebagai bagian dari budaya hiburan dan gaya hidup masyarakat. Sedangkan Scorsese mengemphasis definisi sinema sebagai sebuah seni adiluhung, dan mendegradasikan tayangan hiburan murah sebagai konten.

Jika melihat pada akarnya, pendekatan Garin dalam essaynya sangat berdasarkan keresahan pasar film dalam negri. Di tahun 2020, Indonesia hanya berhasil medistribusikan 56 judul film baru. Karena adanya pandemi, hampir setengahnya langsung di rilis di platform OTT. Membayangkan bahwa hanya berhasil menayangkan kira-kira 34 judul baru di layar perak memang sedikit agak aneh. Kehadiran 22 judul lainnya di streaming service disambut bagaikan sebuah pencapaian sendiri. Film dalam negri berhasil tayang, meski menggunakan mantel “konten” baru bagi librari sebuah website. Landskap distribusi yang masih sangat sulit ini memaksa filmmaker dalam negri mencintai segala kesempatan yang ada untuk menayangkan film mereka. Ketika bioskop dibuka kembali pun, film dalam negri mau tidak mau harus beradu jotos dengan film-film Hollywood yang terlihat lebih “seksi” di mata penonton bioskop.

Sumber : Radarcirebon

Berbeda sangat jauh dengan Amerika Serikat yang berhasil menayangkan 329 judul film baru di tahun yang sama. Meskipun mengalami penurunan signifikan – dari rata-rata 700 – 800 judul – AS membanjiri masyarakatnya dengan pilihan hiburan dan seni yang sangat beragam. Imbasnya adalah banyak film-film baik tenggelam diantara “konten-konten” hiburan murah ketika masuk langsung ke streaming service.

Film dalam negri tidak perlu takut untuk tenggelam diantara banyaknya tontonan lain. Karena memang hasil produksinya hanya sedikit. Manusia dapat tenggelam di samudra, namun tidak di genangan air bekas hujan. Akibatnya, setiap film dalam negri yang bisa masuk dalam streaming service terasa seperti sebuah perayaan. Sebuah perjuangan bersama melawan ratusan film non-Indonesia yang ada di pasar.

Sumber : theasiancinemablog

Surat tangisan filmmaker Indonesia pada pemerintah untuk memberikan stimulus-stimulus demi menyelamatkan industri terefleksi dari angka-angka ini. Memang terlihat sangat memalukan dan menyedihkan, tapi saya rasa langkah ini benar-benar sebuah upaya terakhir menggerakkan industri dalam negri, khususnya produksi film panjang.

Meskipun telah secara panjang mendeskripsikan bahwa industri dalam negri berada di ujung tanduk, pikiran saya masih tidak bisa tenang ketika Garin melakukan analisa budaya masyarakat, untuk menelaah pasar film dalam negri. Rasanya sangat tidak pas. Film-film auteur nan arthousenya seperti Opera Jawa, Daun di Atas Bantal, bahkan Kucumbu Tubuh Indahku (yang mengedepankan nilai ekspresi dibanding nilai pasar) terasa sangat tidak tergambar pada essaynya. Entah bagaimana Garin memahami film secara spiritual, nampaknya konstruksi sosok Garin di kepala saya memang bukan Garin yang sebenarnya. Garin bukan Scorsese Indonesia, Garin adalah Garin. Sutradara — yang kadang, memang — karyanya harus tunduk pada angka. Aach.. Aku Jatuh Cinta!

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 18 April 2021