Oleh Benny Susanto, Divisi Konten Kamisinema

Film sejatinya menjadi wadah untuk menuangkan gagasan demi gagasan yang lahir dari apa yang dirasakan dan dialami manusia. Dari zaman ke zaman, manusia kerap hadir dengan gagasan kreatif serta keabsahannya untuk dituangkan dalam karya film. Kisah cinta klasik, angan-angan kehadiran alien, teknologi canggih, bahkan rasisme, selalu menjadi topik yang kerap hadir. Tema erotis kerap hadir, tidak peduli era apa dan masa kapan, pasti saja hadir untuk menambah variasi dalam dunia sinema di dunia. Namun kehadiran film dengan tema erotis ini, apakah penting adanya? Apakah ada pesan besar tersirat didalamnya? Atau kehadirannya hanya sekedar pemuas hawa nafsu para penonton?

Sumber : Fifty Shade Freed via IMDb

Sejenak kita ingat kembali, bahwa di tahun 2015, dunia perfilman dihebohkan dan sejenak teralihkan perhatiannya ke film adaptasi novel berjudul sama, Fifty Shades of Grey. Masyarakat di dunia seakan dikejutkan dengan hadirnya film dengan tema erotis, menepis anggapan tabu penonton yang dikala itu, menganggap hal yang berbau seksual = pornografi. Namun Fifty Shades of Grey dengan mantap terjun ke layar lebar dan menepis anggapan kuno itu. Apa hasilnya? Nihil. Bahkan film ini jika tanpa kehadiran original soundtracknya yang booming di kala itu (Love me like you do – Ellie Goulding), film ini benar-benar hanyalah porno. 

Sumber : Fifty Shades of Grey meme/ME.ME

Indonesia pernah memasuki era kejayaan film erotis. Bukan, bukan era dimana film horor Indonesia hanya bermodalkan belahan dada dan lelucon kotor murahan, tapi sineas film di Indonesia pada era 80-90an, menseriusi tema film ini. Bebas Bercinta (1995), Susuk Nyi Roro Kidul (1993), Catatan Harian Tante Sonya (1994), dan masih banyak lagi, yang menemani para penonton “kritis” di era tersebut.

Sumber : Susuk Nyi roro Kidul via IMDb

Lima tahun selepas “kesuksesan” Fifty Shades of Grey, bahkan mereka melanjutkan film in ke sekuel-sekuel yang lebih “berkualitas”, nampaknya kesuksesan film ini memotivasi Netflix, untuk membuat versi mereka dengan lebih elegan dan tentunya, erotis. 365 days, di tahun 2020, menarik perhatian peminat film sama seperti Fifty Shades of Grey. hadir dengan menekankan konsep elegan dari kisah cinta seorang pebisnis dan pewaris tahta mafia besar di Polandia. Sia-sia rasanya membahas aspek naratif dan sinematik dalam film ini, karena kesan seksual yang dijual, sehingga film ini hanya menjadi film porno garapan Netflix dengan budget tinggi.

Lalu, dengan jejak rekam film erotis di dunia, dari masa ke masa, apa yang menjadikan film ini awet dan selalu hadir? Film mampu membekas di benak penonton, jika film tersebut memberikan pengalaman sinematik megah dan memanjakan mata bahkan menggerakkan emosi tertentu. Pengalaman yang lahir dari sisi naratif film juga dapat dirasakan melalui pesan kuat dalam sebuah film. Film erotis, tidak menggunakan kedua hal tersebut sebagai senjata pamungkasnya, akan tetapi kepuasan dan hasrat seksual dari manusia. Hanya berbicara tentang kemasannya saja, yang disesuaikan dengan selera penonton di masanya.

Sumber : Focus Features via IMDb

Dalam menggarap film, tidak pernah ada batas dan ketentuan siapa yang boleh dan tidak untuk menghasilkan karya film. Sampai kapanpun, akan selalu ada mereka yang cinta mati pada dunia sinema dan terus berhasrat untuk membuat film bagus, dan ada mereka yang hanya membuat film demi keuntungan uang semata, bahkan menjual hawa nafsu belaka, layaknya film erotis. Hadirnya film erotis membuktikan bahwa sampai detik ini dan yang akan datang, film masih ampuh menjadi media untuk menyalurkan isi pikiran siapa saja. KIta bisa jadikan film sebagai hiburan, saksi bisu kejadian kelam, alat propaganda, penyebar pesan kebaikan, bahkan pemuas selangkangan pun, bisa disalurkan lewat film. 

Pada akhirnya, tidak ada yang kuasa untuk menghentikan gerakan “porn wave” ini, yang selalu bisa lolos dari gocekan pecinta film sejati, yang tentu menentang akan kehadiran mereka, para sineas film erotis.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 3 Mei 2021