Oleh Intan Bintang Pratiwi, Divisi Konten Kamisinema
Film sejatinya merupakan salah satu media yang efektif dalam mengaspirasikan suatu ide dan gagasan. Tak jarang dalam berbagai kesempatan sineas menjadikan kesempatan tersebut ntuk mengkritik suatu instansi dalam bentuk sarkas maupun secara blak-blakan.
Kehadiran series asal Negara Thailand berjudul Girl From Nowhere, yang pada pekan ini baru saja merilis musim keduanya, merupakan suatu gambaran nyata akan berbagai isu sosial yang terjadi di tengah masyarakat khusunya dalam ranah pendidikan. Hadir dengan kemasan berbeda dengan film atau series yang mengangkat isu sosial lainnya, Girl From Nowhere dengan berani mengungkap sisi tergelap pendidikan dengan karma berbentuk manusia.

Sumber : netflix.com
Girl From Nowhere merupakan serial antalogi yang pekan ini baru saja merilis musim keduanya. Berangkat dengan konsep yang sama dari musim pertama, Nanno – protagonist dalam serial ini kembali mengungkap isu-isu sosial memuakkan dengan cara yang paling tidak masuk akal. Pelecehan, Kompetisi penuh intrik, penghianatan, kecurangan, tindak kriminal dan berbagai rangkaian kejadian lainnya diungkap secara blak-blakan melaui series ini. Menariknya, musim pertama pada serial ini yang berjumlah 13 episode ternyata diangkat dari kejadian nyata dengan judul asli Dek Mai, kisah yang merangkum 13 kejadian berbeda di sekolah-sekolah Thailand.

Sumber : voi.id
Series ini dengan gagah berani hadir ditengah masyarakat Thailand yang belakangan terkahir tengah mengalamai krisis politik. Meskipun lebih menyasar pada sisi gelap sistem pendidikan yang ada, namun series ini seolah menjadi oase yang mendobrak tabu Negara anti kritik tersebut.
Episode 1 musim pertama misalnya, bercerita tentang seorang gadis yang dilecehkan oleh gurunya sendiri dan tidak memperoleh keadilan. Episode ini secara gamblang menjadi representasi paling aktual dari salah satu skandal yang turut hadir dalam aksi demonstrasi di Thailand. Dalam aksi tersebut, seorang perempuan muda berdandan seperti siswi sekolah menengah, mulut dilakban, dan dengan cepat menarik perhatian media karena pelakat tulisan yang ia bawa. Melansir dari lama The Thaiger, plakat itu tertulis, “Seorang guru melakukan pelecehan seksual terhadap saya, sekolah tidak aman.”

Sumber : instagram.com_netflixth
Mirisnya, dengan rangkaian kejadian tersebut pun, sekolah-sekolah di Thailand dianggap tidak memiliki keinginan untuk menyelesaikan persoalan tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh staf dan guru tersebut. Dikutip dari laman IDN Times, Supensri Puengkhoksung, Manajer Yayasan Kesetaraan Sosial, menjelaskan bahwa banyak eksekutif yang tidak menyelidiki secara tuntas kasus pelecehan seksual di sekolah karena khawatir akan reputasi sekolah.
Contoh kejadian tersebut secara nyata telah menjadi bukti betapa realistis isu sosial yang dihadirkan dalam serial Girl From Nowhere meskipun dikemas dalam cerita yang berada diluar nalar manusia. Ide sutradara juga terbilang sangat brilian dengan memutar balikan nasib korbannya, dimana semua korban dijadikan pemenang dalam kisah-kisah series antalogi ini. Mendistorsi kebeneran dan kejahatan tanpa menghilangkan sisi idealis yang ingin diperlihatkan.

Sumber : Enavabharat.com
Berangkat dari konsep tersebut, sebuah film atau series memang sudah seharusnya dapat menjadi media untuk mengkritisi suatu persoalan. Hal ini berkaitan dengan prinsip demokrasi dan kebebesan berpendapat sebagai masyarakarat. Ketika sebuah film yang memuat realita sosial dibungkam atau dilarang, maka saat itu juga prinsip demokrasi di tempat tersebut harus dipertanyakan.
Melalui tulisan ini, saya ingin menggambarkan bahwa sebuah karya film atau series tidak hanya dapat menghibur, namun juga dapat menjadi tabir pembuka yang menunjukan berbagai kenyataan tak terelakan di sekitar kita.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 15 Mei 2021