Oleh Putu Bayuwestra, Divisi Konten Kamisinema
Dari tahun ke tahun, produksi film layar lebar dalam negeri terus meningkat. Para pembuat film (sineas) terus menerus melakukan inovasi dalam proses produksi, tak terkecuali mengadaptasi novel menjadi film. Para sineas ini melirik sebuah tren di kalangan remaja yang merupakan pangsa pasar utama industri film layar lebar Indonesia. Tren tersebut adalah membaca kisah fiksi berupa novel. Adaptasi ini membutuhkan komitmen, visi, serta cara pandang yang jelas sang sineas terhadap isi novel tersebut. Resiko besar yang diemban adalah berupa ekspektasi para pembaca serta yang hype yang dibawa jika itu adalah novel populer. Terlepas dari hal tersebut, film yang telah atau akan dihasilkan haruslah juga mampu dipandang sebagai sebuah film yang berdiri sendiri. Di tahun 2021, akan ada sebuah film adaptasi novel yang jika diadaptasi dengan tepat akan menjadi “Film Tergila Tahun Ini”. Film apakah itu? Mari simak tulisan ini hingga akhir.

Sumber : Falcon Pictures
Ekranisasi bukanlah suatu hal yang baru dalam industri film. Banyak film yang diadaptasi dari novel populer, tak terkecuali film Indonesia. Namun apa itu ekranisasi?. Ekranisasi berasal dari bahasa Perancis, “I’écran”, yang berarti layar; jadi istilah itu mengacu ke alih wahana dari suatu benda seni (biasanya yang termasuk sastra) ke film. Dalam prosesnya, banyak jenis pendekatan yang dilakukan oleh sang sutradara. Ada yang setia dengan naskah asli, ada juga yang tidak. Beberapa film Indonesia yang merupakan hasil ekranisasi antara lain, “Bumi Manusia (2019)”, “Dua Garis Biru (2019)”, “Marmut Merah Jambu (2014)”, “Perahu Kertas (2012)”, “5 CM (2012)”, “Pintu Terlarang (2009)”, dan lain sebagainya. Film-film ini dialihwahanakan dengan berbagai alasan, ada yang karena novelnya populer, ada juga karena ketertarikan sang sineas terhadap isi novelnya.

Sumber : bukakamus.com
Selanjutnya akan muncul pertanyaan, seberapa akurat sebuah novel harus diadaptasi ke dalam bentuk film. Menurut Giannetti dalam bukunya “Understanding Movie 9th edition”, ada 3 pendekatan seorang sutradara dalam mengadaptasi novel menjadi film, yang diantaranya :
- The loose adaptations is barely that. Generally, only one idea, a situation, or a character is taken from a literary source, then developed independently.
- Faithful adaptations, as the phrase implies, attempt to re-create the literary source in filmic terms, keeping as close to the spirit of the original as possible.
- Literal adaptations are usually restricted to plays. As we have seen, the two basic modes of drama-action and dialogue are also found in films.

Sumber : Starvision Films
Intinya, pendekatan dalam adaptasi novel menjadi film, dapat dilalui melalui 3 cara, yaitu pengadaptasian seluruhnya, pengadaptasian sebagian besar ide cerita, dan pengadaptasian konsep. Sineas bisa memilih gaya manapun yang menurutnya paling sesuai.
Memilih untuk mengadaptasi novel bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Ada banyak beban yang nantinya akan diemban oleh sang sineas ketika melakukannya. Pertama, adalah tentang interpretasi tiap orang yang beda terhadap isi novel. Ini menjadi tanggung jawab besar sang sineas dalam memberikan kematangan konsep visual (dan audio) terhadap isi dari novel tersebut. Sehingga, dapat kembali pada hakikat dasar mengapa film itu dibuat, yaitu untuk membuat orang yang menonton percaya. Kedua, adalah tentang usaha pemenuhan ekspektasi. Sang sineas perlu memahami esensi dari film tersebut. Pemahaman tersebut nantinya akan membuat sang sineas tidak harus bersusah payah dalam memenuhi ekspektasi tiap orang. Lalu, beban terakhir adalah bagaimana cara sang sineas dalam membuat sebuah film yang utuh dan berdiri sendiri.

Sumber : Soraya Intercine Films
Terlepas dari sebuah film adaptasi yang telah memiliki patokan tentang isi, kualitas, dan massa penikmatnya; film adaptasi tetaplah harus mampu dipandang sebagai sebuah film yang utuh dan berdiri sendiri tanpa bersikeras membandingkan ke sumber aslinya (novel). Bukannya bermaksud untuk tidak mengindahkan sang author. Namun, jika terus memandang film adaptasi sebagai sebuah bentuk komparasi dari suatu karya; atau lebih tepatnya mengkajinya sebagai “topik pertama dan utama”, sang sineas atau kreator dari film tersebut seakan tidak memiliki otorisasi terhadap karya yang diproduksinya. Memandang film adaptasi sebagai sesuatu yang utuh dan berdiri sendiri, jelas sangat sulit bagi mereka yang telah mengetahui, membaca, memahami sumber aslinya. Namun hal itu sebenarnya akan jadi lebih mudah, jika kita sanggup untuk memahami hakikat dasar dari kedua jenis karya ini. Novel sebagai sesuatu yang dibaca. Film sebagai sesuatu yang ditonton

Sumber : Palari Films
Sekalipun tidak mudah dalam memproduksinya, nyaris tiap tahun film adaptasi berbagai genre dibuat di Indonesia. Dan pada tahun 2021, akan ada sebuah film yang menurut penulis wajib untuk diantisipasi. Film ini merupakan karya terbaru dari Edwin, sosok yang terkenal dengan film-filmnya seperti, “Babi Buta yang Ingin Terbang” (2008), “Posesif” (2017), dan “Aruna dan Lidahnya” (2018). Film tersebut berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Film ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama karya Eka Kurniawan, yang rilis tahun 2014 silam. Untuk sinopsis novel ini, dijelaskan dalam blurb-nya, “Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.”

Sumber : Palari Films
Mengapa film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” sangat layak untuk dinantikan? Bagi mereka yang pernah membaca novelnya, film ini diharapkan akan menjadi sebuah pertunjukan dari perpaduan cerita yang “brutal” dan sutradara yang memiliki gaya sama “brutal”-nya. Namun, bagi mereka yang belum, tontonlah film-film Edwin dan baca kembali sinopsis pada uraian sebelumnya, Anda akan mulai menaruh ekspektasi. Eka Kurniawan sebagai penulis novelnya sangat layak mendapatkan apresiasi terhadap apa yang telah ia “Tuntaskan”; yang kemudian, amat menarik untuk dinantikan bagaimana Edwin dan segenap kru akan menyajikannya dalam bentuk film. Update tentang kapan dan dimana film ini bisa disaksikan dapat dilihat di akun instagram @sepertidendanfilm dan tunggu review selanjutnya.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 17 Mei 2021