Oleh Suci Prasasti, Divisi Konten Kamisinema
Menceritakan popularitas pulau Banda dengan rempah khas berupa pala dan fuli sebagai primadona di mata bangsa-bangsa Barat membuat Banda dijadikan pulau penghasil rempah-rempah paling diburu pada abad pertengahan. Maka film Banda: The Dark Forgotten Trail ini berusaha menuturkan keindahan sekaligus memori-memori kelam yang direpresentasikan dalam berbagai aspek dalam film ini.

Teaser poster of Banda the Dark Forgotten Trail – Sumber : instagram.com/lifelikepictures
Banda: The Dark Forgotten Trail merupakan film dokumenter arahan Jay Subiyakto yang diproduksi oleh LifeLike Pictures pada tahun 2017 dengan dua aktor kenamaan Indonesia sebagai naratornya, yakni Reza Rahadian dalam versi bahasa Indonesia dan Aryo Bayu dalam versi bahasa Inggris. Seperti judulnya film ini memaparkan serangkaian kejadian di masa lalu mengenai pulau Banda, salah satu pulau indah dan bersejarah dari gugusan kepulauan Banda, Maluku dengan fokus utama pada rempah yang dihasilkan pulau ini, yaitu pala.
Diiringi dengan narasi yang indah, film ini tidak hanya memaparkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Banda seperti kerusuhan yang diakibatkan oleh faktor SARA ataupun diasingkannya beberapa tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia seperti Hatta dan Sjahrir, tetapi juga bercerita mengenai legenda pohon pala yang disajikan bak dongeng yang bercerita mengenai seorang pangeran yang hendak melamar seorang putri bernama Cilu Bintang tetapi dengan syarat membawa upeti berupa biji emas, namun pangeran menipu Raja dengan membawakan buah pala. Tetapi pada akhirnya pala benar-benar menjadi emas dan diperebutkan oleh bangsa Eropa. Dan pada akhir film ditutup dengan puisi berjudul ‘Cerita Buat Dien Tamalea’ karya Chairil Anwar pada akhir film.

Sumber : instagram.com/lifelikepictures
Sementara itu film diawali dengan cerita mengenai kedatangan bangsa-bangsa Barat ke pulau Banda yang kemudian membawa Banda menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia dengan pala dan fuli (bunga pala) sebagai komoditas utama pulau ini, hingga keadaan terkini Banda yang mulai terlupakan. Melalui film ini kita sejenak diajak kembali menelusuri jejak sejarah dan masa-masa kejayaan pulau Banda.
Banda menjadi salah satu pulau paling diburu pada abad pertengahan karena merupakan daerah penghasil pala yang pada saat itu dianggap lebih berharga dibandingkan emas karena tidak hanya berguna sebagai bahan penyedap tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat obat-obatan bahkan pengawet makanan yang sangat dibutuhkan saat perang, sehingga bangsa Eropa berlomba-lomba untuk mendapatkan buah emas ini. Dengan menampilkan keindahan alam beserta sudut-sudut penting pulau Banda dan iringan narasi indah yang menghanyutkan, serta visualisasi berupa dua orang perempuan berwajah cantik nan eksotik khas Maluku saat legenda pohon pala dituturkan menjadi representasi film ini yang menggambarkan pulau Banda sebagai ‘Surga’ yang dihayalkan juga diidam-idamkan dunia ketika itu.

Sumber : Oscar Motulah via instagram.com/lifelikepictures
“Eropa bermaksud mematahkan monopoli pedagang Arab selama ratusan tahun dengan menemukan surga yang mereka hayalkan”. Sejak jatuhnya kekuasaan konstatinopel bangsa Eropa harus berusaha sendiri menemukan sumber penghasil pala dan akhirnya berhasil menemukannya yaitu di Banda. Meskipun demikian, menjadi surga yang diburu hampir sebagian besar bangsa Eropa tidak serta merta membuat masyarakat Banda merasa bahagia, tenang, dan tentram layaknya tinggal di surga karena sejatinya surga ini hanya berlaku untuk bangsa Eropa. Semenjak kedatangan VOC yang berhasil mengusir bangsa Portugis, ribuan masyarakat Banda juga dibunuh dan kekuasaan pulau Banda diambil alih oleh mereka sehingga pengelolaan maupun perdagangan pala berada di bawah kendali VOC. Tidak hanya itu setelah berakhirnya kekuasaan penjajah di tanah Banda dan Indonesia kemudian merdeka, bertahun-tahun kemudian Banda dilanda kerusuhan yang juga memakan banyak korban diakibatkan oleh isu berbau SARA yang terjadi di sana. Untuk menggambarkan memori-memrori kelam ini, meski memperlihatkan scene berupa keindahan alam pulau Banda, mood beserta musik film ini terasa kelam dan gelap. Beberapa potongan gambar tempat-tempat bersejarah memperlihatkan kesenduan dan kesedihan yang dialami masyarakat Banda kala itu.

Kota kecil Banda Neira, berlatar Laut Banda dan Gunung Api – Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id
Berdasarkan kedua hal diatas Film ini tidak hanya menyuguhkan kita sebuah paparan sejarah pulau yang sempat menjadi primadona bangsa-bangsa Eropa, bahakan diperebutkan oleh beberapa negara yang akhirnya jatuh ke tangan VOC tetapi juga menjadi sebuah media untuk mengungkapkan serta memperlihatkan ekspresi maupun sudut pandang sang filmmaker melalui aspek-aspek berupa audio dan juga visual yang meskipun tampak bertolak belakang, di mana memperlihatkan kesedihan sekaligus keindahan secara bersamaan tetap tampak menyatu padu merekam memori masa lalu tentang Banda.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 21 April