Oleh Ihza Affikri Awwal, Kamisinema

Saya pernah bertanya-tanya. Apa yang spesial dari film animasi itu sendiri? Apakah dari ceritanya yang begitu fantasi? Tokoh yang beraneka ragam? Desain dunianya yang lebih bebas dan fleksibel? Pertanyaan itu semuanya saya jawab, benar sekali. Seringkali kita beranggapan bahwa film animasi didesain untuk anak-anak karena desain karakternya dimodifikasi menjadi ramah dan lucu bagi mereka. Lantas, bagaimana dengan anime Jepang yang sebagiannya mendapat kategori tayangan dewasa padahal itu animasi?

Dari pandangan saya pribadi, film animasi seolah-olah hadir untuk melawan tuntutan realita. Film live actuon yang mengekspos dunia nyata lewat negatif film atau sensor kamera hanya merekam itu-itu saja di dunia ini. Visual yang tercipta adalah realitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam film animasi, visual yang tercipta murni dari otak kita sendiri, lalu kita desain dengan unik sehingga dunia nyata terlihat seperti tidak ada apa-apanya. 

Sumber : Studio Ghibli

Menyambungkan gambar ciptaan manusia menjadi sebuah video adalah definisi dari animasi itu sendiri. Sudah ada banyak film atau serial animasi yang hadir untuk menghibur penonton. Tak lama, hadir film live action yang bisa memotret dunia nyata lewat negatif film atau sensor kamera, sehingga visual yang hadir lebih realistis. Lantas, apa yang spesial dari film animasi itu sendiri untuk bersaing dengan film live action?

Apakah film animasi spesial dari ceritanya yang begitu imajinatif? Desain karakter yang beragam? Desain dunia yang begitu bebas dan fleksibel? Menurut saya, jawabannya adalah tepat sekali. Memang, film animasi hadir untuk membantu anak-anak untuk berimajinasi setinggi langit. Film animasi juga membantu sekali dalam menciptakan tokoh yang ramah dan menyenangkan untuk anak-anak.

Sumber : Mappa Studio

Apakah film animasi memang ditujukan untuk anak-anak? Tidak juga. Kita mencoba berkelana ke negeri samurai terlebih dahulu. Jangan terkejut, karena ada beberapa anime Jepang yang tak segan-segan menyipratkan darah merah lewat gambaran animasi. Attack on Titan misalnya. Hal ini membuat argumen mengenai film animasi untuk anak-anak menjadi pudar. 

Film animasi menjadi tidak ada bedanya dengan film live action karena tidak bisa dibeda-bedakan lagi target penontonnya. Lalu, kita mengajukan pertanyaan sekali lagi. Apa yang membuat film animasi punya keistimewaan dibanding film live action itu sendiri? 

Sumber : Cartoon Network

Film live action pun bangga dengan visualnya yang realistis. Dekat dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Melihat film sinema mirip sekali dengan melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita. Sedangkan film animasi? Apa yang spesial dari gambaran dua atau tiga dimensi tersebut? Melihat visualnya saja tidak mirip dengan dunia nyata?

Orang bijak akan mengatakan, jadikan kelemahan itu menjadi sebuah kelebihan. Dari sudut pandang saya pribadi, film animasi mempunyai satu hal yang tidak bisa dilakukan di film live action. Fleksibel. Karena film sinema menghadirkan visual yang realistis, konsekuensinya, film itu harus dituntut untuk mengikuti kaidah-kaidah aturan dunia nyata (walau sekarang bisa diotak-atik lewat CGI). Sedangkan film animasi, kita bisa bebas mendesain apapun sesuai imajinasi otak kita. Bisa menciptakan aturan dunia sendiri secara keseluruhan, tanpa ikut campur kaidah dunia nyata.

Sumber : TV Tokyo

Contoh simpelnya saja adalah warna rambut. Pernahkah kita protes kenapa Naruto yang baru lahir tiba-tiba rambutnya berwarna kuning? Pernahkah kita protes kenapa Kushina atau Nagato dari dulu berrambut merah pada masa anak-anak? Sedangkan di dunia nyata, kita meragukan aturan hidup bahwa bayi yang baru lahir tiba-tiba tumbuh rambut kuning cerah. Kalau rambut pirang, itu masih wajar di negara subtropis. Sedangkan rambut merah sejak kecil? Apakah ada di dunia nyata? Apakah sejak kecil dia sudah diberi pewarna rambut merah?

Fleksibilitas dalam menciptakan desain visual animasi bisa saja melampaui apa yang diinginkan di dunia nyata. Ini bisa saja dijadikan sebagai alat penyampai pesan secara alternatif kepada penonton. Contoh saja, warna rambut merah bisa melambangkan kepribadian tokoh yang berapi-api. Sedangkan di dunia nyata, rambut kebanyakan berwarna hitam atau pirang saja.

Sumber : Studio Ghibli

Dari argumen di atas, film animasi hadir untuk menantang dunia nyata atau realisme yang begitu-begitu saja. Jika kita ingin menciptakan karya audio visual untuk mengajak penonton lari dari kenyataan (escapism), saran saya lebih baik buatlah film animasi. Film animasi fleksibel sekali dalam membangun cerita, dunia, karakter, kostum, properti, dan setting. Walau seakan-akan menjauh dari kenyataan, penonton pada dasarnya butuh cerita yang bagus dan meyakinkan. Cerita yang bagus bisa membuat penonton masuk ke dunia animasi tersebut. 

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 9 Juni 2021