Oleh Farhan Febriyanto, Kamisinema

Dalam menghadapi ketegangan politik, intrik, dan ketidakadilan yang terjadi di dalam Istana, Ned berjuang untuk tetap berbudi luhur. Tapi apakah ini adalah sesuatu yang tepat dan bijak bagi dirinya? Tulisan ini akan membahas tentang perkembangan karakter Eddard Stark di Game of Thrones, dia adalah salah satu karakter yang dibalut dengan disilusionment arc. Dimana character arc ini menuntun Ned dalam upaya makarnya yang mulia, namun berakhir dengan sangat tragis, memilukan, dan memalukan.

Sumber : HBO

If you think in that sense, a world where everyone in this world can equally enjoy peace and happiness, something like that can only exists in fantasy.”

Kutipan di atas membuat saya terdiam, mengiyakannya untuk beberapa tahun, sampai akhirnya saya menyaksikan perjalanan karakter Eddard Stark (selanjutnya disebut Ned) di Game of Thrones.

Di sepanjang serial yang memiliki episode 10 untuk musim pertama, yang masing-masing berkisaran 50-60 menit, penonton disuguhkan dengan realita pahit yang dialami seorang Lord of Winterfell. Mula-mula ditampilkan sebagai sosok yang menjunjung tinggi kejujuran, tugas, serta kehormatan, namun menjelang paruh akhir musim pertama penonton juga diberikan sudut pandang lain dalam menilai Ned.

Sumber : HBO

Dia terlalu naif. Dalam kerajaan yang sedang berada di era ‘ketenangan sebelum badai’, sosok Ned bukanlah karakter yang tepat untuk hadir dan bertindak-tanduk banyak. Segala keputusannya selalu dipengaruhi oleh nafsu egosentris, pokoknya gak boleh ada orang, bahkan Raja Robert sekalipun yang boleh menginjak-injak kejujuran, amanat moral, dan kehormatan!

Tentu hal ini menjadi paradigma yang unik, dia adalah sosok bangsawan pembela kebenaran, namun juga bangsawan yang naif, bodoh, dan kikuk dalam berpolitik. Sosok Ned mungkin akan tetap disegani jika dia berada di Winterfell, namun saat dia memutuskan untuk menjadi Tangan Kanan Raja di King’s Landing, dia menjadi sasaran empuk para pemain lama disana.

Bisa dimengerti bahwa alasan Ned selalu berpegang teguh pada pendiriannya karena hal itulah yang membawanya hingga berada di posisi sekarang, namun kegagalannya dalam membaca situasi serta kesulitan beradaptasi pada lingkungan yang sarat akan politik semakin menjerumuskannya pada hal yang tak terelakkan.

Sumber : HBO

Masalah utama dari Ned, adalah dia terlalu percaya diri. Seluruh Westeros terlanjur percaya bahwa Joffrey Baratheon adalah pewaris sah Tahta Besi. Apa yang idealnya dapat Ned lakukan, bahkan jika dia ingin membongkar kepercayaan rakyat Westeros? Menghimpun kekuatan sebesar-besarnya. Namun nyatanya tidak, Ned kadung kecewa ketika menemukan fakta yang mengiyakan kecurigaannya, dan tidak sabar akan hal tersebut.

Ned terjatuh, dan hanyut dalam perjalanan karakter yang dikenal dengan nama “Disilusionment Arc”.

Sebelum dia pergi meninggalkan Winterfell, dia adalah seorang Lord Bangsawan yang ‘aman’, tidak ada gerak-gerik melakukan make car. Ned masih percaya selayaknya rakyat Westeros bahwa Joffrey Baratheon adalah pewaris sah. Semua mulai berubah saat Raja Robert memintanya untuk menjadi Tangan Kanan Raja, dengan memanfaatkan kepergiannya ke selatan. Ned berinisiatif melanjutkan misi pengungkapan kematian Jon Arryn yang berujung menjadi kecurigaannya terhadap status anak-anak Robert sebagai pewaris sah.

Sumber : HBO

Ada satu titik yang disebut Moment of Truth, dimana Ned akhirnya menemukan fakta bahwa Joffrey adalah anak hasil hubungan incest Jaime-Cersei. Hal ini menjadi pembangkit bara api sang bangsawan kita, nafsu untuk menegakkan birahinya akan kejujuran dan kehormatan semakin tak tertahankan. Ned pun terobsesi dengan kenyataan yang baru ia temui, kepercayaan bahwa Joffrey adalah pewaris sah, menjadi runtuh seketika di benaknya.

Namun Ned masih belum siap untuk all out, dia masih diselimuti duka setelah ditinggal sahabat baiknya, Robert. Jadi, Ned berusaha mengonfrontasi ke Cersei dengan lembut. Tentu saja, hal ini justru menjadi momen blunder bagi Ned. Dimana logikanya kalo kita bisa bahas baik-baik borok musuh, dan berharap mereka luluh? Bahkan di serial fantasi ini pun, gak diamini sama sekali.
Konfrontasinya dengan Cersei yang gagal, membuat Ned untuk menggalang kekuatan sebesar yang dia mampu. Ned berkoalisi dengan Petyr Baelish, dengan tujuan mendapatkan dukungan dari Gold’s Cloak (Satpol PP King’s Landing) untuk melucuti dan mengakhiri dinasti tidak sah dari keturunan Cersei Lannister. Hal ini membawanya ke babak ketiga dalam disilusionment arc, Ned mengetahui betul dengan jelas kenyataan yang sebenarnya, dan membawa kenyataan itu untuk keluar secara all out.

Sumber : HBO

Sayang, Ned yang sudah terobsesi dengan kenyataan barunya, menjadi begitu lengah dan semakin kikuk. Ned lupa bahwa Petyr adalah seorang oportunis, juga manipulatif pada setiap orang di Istana. Hal ini berujung pada gagalnya aksi Ned, dia justru dikhianati Petyr, pasukan Ned dibantai habis oleh Gold’s Cloak dibawah perintah Petyr. Nasib Ned sendiri berakhir di tangan orang yang sebelumnya ia percayai, Petyr menodongkan belati ke lehernya. Ned terpojok sendirian.

Di beberapa episode kemudian, kita mengetahui bahwa Ned hanya disodorkan dua pilihan, mengakui pengkhianatannya terhadap keluarga kerajaan, atau tetap teguh dan menjalani hukuman mati. Namun semuanya sudah terlambat, bahkan ketika Ned pada akhirnya memilih untuk mengakui pengkhianatannya di khalayak umum, Joffrey yang sudah naik takhta tak memberi ampun dan memenggal Ned, bangsawan bermartabat kita.

Sumber : HBO


Ned-Eddard Stark, terlalu idealis untuk King’s Landing yang pragmatis. Dia lupa kalau yang dihadapinya bukan orang-orang yang secara verbal menyatakan maksud dan keinginannya, tetapi orang-orang yang kerap bermain retorika yang sangat lembut. Ned terlalu lurus untuk semua itu, dia hanyalah bangsawan yang salah tempat dan waktu, dia hanyalah bangsawan Utara keras kepala yang tidak mengerti politik di Selatan.

Pada akhirnya, Ned terlalu terobsesi dengan kenyataan barunya, mengira dia bisa menang bermodalkan fakta, tanpa pasukan. Ned terjatuh dalam disilusionment arc yang membawanya ke kenyataan yang lebih tragis dari yang dia kira sebelumnya. Ned harusnya paham kalau make car tidak hanya bermodalkan surat sakti; tapi juga lusinan pasukan yang diikuti pembantaian…

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 1 Juni 2021