Oleh Moch. Fadliawan, Divisi Konten
Ada film yang menggunakan narasi tambahan sebagai penambah keterangan ketika sineasnya tidak bisa memvisualkan hal tersebut. Ada juga yang menggunakan dialog panjang guna memperjelas cerita dalam filmnya. Lalu adakah film yang minim dialog atau bahkan tanpa dialog?
Nyatanya hal tersebut nyata adanya, beberapa sineas mencoba mengeksekusi karya mereka dengan memaksimalkan bahasa visualnya. Film-film yang diproduksi biasnya berupa film pendek dengan berbagai genre. Tulisan kali ini, akan sedikit menjelaskan tentang salah satu flm pendek horror tanpa dialog yang mampu bercerita dengan baik melalui audio dan visualnya.

Sumber : YouTube Vidsee
Sejatinya film merupakan sebuah video yang bercerita, cerita pada film disampaikan dalam bentuk audio visual. Salah satu indikator keberhasilan sebuah film adalah; penonton dapat memahami isi cerita film melalui visual yang diberikan dan penonton menjadi terbawa dalam suasana yang diberikan film tersebut tanpa harus dijelaskan ulang secara verbal. Maka dari itu, aspek naratif serta aspek sinematik dalam film harus dipersiapkan dengan matang agar seluruh mise-en-scenenya dapat menyampaikan cerita dengan baik.
Dengan itu, YOMYOMF Network mengumpulkan beberapa sutradara dari Asia untuk membuat film pendek horror tanpa dialog guna merayakan Halloween serta membuktikan bahwa dengan kekuatan sinematik yang baik, sebuah film dapat bercerita dengan baik meskipun tanpa dialog. Akhirnya terdapat empat film pendek horror yang tergabung dalam ‘SILENT TERROR’. Keempat film tersebut berjudul Vesuvius, Bad Butt, Double, dan salah satunya berasal dari Indonesia, yakni ‘Grave Torture.’

Sumber : YouTube Vidsee
Film tanpa dialog bukan berarti film yang sengaja di-mute, tetapi benar-benar diproduksi tanpa adanya dialog dengan tetap memberikan suara efek dan musik pendukung. Dengan tantangan tanpa dialog, Grave Torture menjadi salah satu contoh film pendek yang memaksimalkan segala aspek sinematik dalam filmnya. Film pendek horror yang digarap tanpa dialog ini tetap dapat bercerita dengan apik serta memberi atmosfer menyeramkan kepada setiap penontonnya.
Joko Anwar selaku penulis sekaligus sutradara film pendek ini mengangkat cerita tentang kepercayaan sebagian besar penduduk di Indonesia akan adanya siksa kubur setelah kematian. Pemilihan tema yang tepat karena sudah familiar dikalangan masyarakat, hal ini akan membuat masyarakat mampu mencerna isi cerita dengan baik dan mendapatkan atmosfer ceritanya.

Sumber : YouTube Vidsee
Bercerita tentang seorang anak dari pembunuh berantai yang tanpa sengaja ikut terkubur bersama mayat dan peti ayahnya juga harus menyaksikan kengerian siksaan kubur pada ayahnya, film pendek ini bukan berisikan jumpscare yang membuat penonton berteriak, namun film ini lebih menghasilkan atmosfer menyeramkan yang membawa penonton masuk kedalam filmnya. Sama seperti film horror garapan Joko Anwar lainnya
Dibuka dengan shot seorang anak dengan ekspresi yang masam sekaligus sedih dilanjut dengan shot beberapa warga yang terlihat sedang berdiskusi menandakan bahwa suasana saat itu sedang tidak baik-baik saja. Headline pada koran dan bingakai foto menjadi penambah informasi apa yang terjadi dirumah tersebut. Shot point of view yang diambil dengan teknik hand held menciptakan gambar yang goyang sebagai tanda keraguan pada si anak ketika akan masuk kedalam peti mati ayahnya.

Sumber : YouTube Vidsee
Tidak hanya memberi informasi melalui visual dan adegan saja, film pendek ini juga memaksimalkan sound design serta tata cahaya guna menunjang penyampaian cerita dengan baik. Beberapa adegan yang tidak divisualkan dalam film ini tetap dapat difahami dengan adanya sound design yang epik. Seperti saat terdengar suara orang berjalan mendekat dan suara peti mati yang sudah masuk keliang kubur, adegan yang tidak divisualkan namun penonton tetap mendapat dan memahami informasi tersebut.
Tata cahaya yang dipilih mampu membuat atmosfer diruangan tersebut terasa cukup dingin dan mencekam. Tata cahaya yang digunakan tidak hanya sebagai penerang ruangan dan kebutuhan estetika saja. Cahaya yang berwarna jingga dengan intensitas yang berubah-ubah ditambah suara teriakan serta pecutan menegaskan bahwa terdapat kobaran api dan kejadian yang menyeramkan.

Sumber : YouTube Vidsee
Dengan segala kehebatan aspek sinematik dalam film ini, Film pendek ini dapat menjadi salah satu contoh yang baik yang dapat digunakan sebagai referensi untuk memaksimalkan bahasa visual.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 20 Mei 2021