Oleh Panglima Ramzy, Kamisinema

slide 4 pertama

Sumber : Highwayman Films

Frame menjadi salah satu bagian penting dalam perihal menyampaikan cerita kepada penonton. Setiap sutradara memiliki gayanya sendiri, salah satunya Chloe Zhao. Chloe Zhao sangat menyukai gambar yang realistis serta cerita tentang keterikatan manusia dengan lingkungannya. Maka dari itu, James Richard, sinematografer, mencoba untuk menggapai visi milik Chloe Zhao dengan menghadirkan Fern sebagai tokoh yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Namun, terdapat banyak sekali ikatan dan kepergian yang diceritakan oleh James Richard melalui komposisi, pencahayaan, dan pergerakan kamera. “..The lighting in regard to empathy, but also truth and honesty, and also listening and accepting people as they are, and capturing that instead of trying to impose our cinematic, cosmetic, nicety, prettifying things for absolutely no reason other than it makes money, was never going to find its way into this film…” Wawancara dengan James Richard, ditulis oleh Adam Chitwood.

Sumber : Highwayman Films

Nomadland merupakan sebuah film yang membicarakan keterikatan dan kepergian. Perjalanan Fern dari satu tempat menuju tempat lain dan mengenal beragam manusia terlihat sangat natural dan nyaman untuk dilihat. James Richard selalu menggunakan komposisi mass; balance untuk menjelaskan jati diri Fern kepada penonton. Penggunaan komposisi tersebut membuat Fern terlihat menyatu dengan lingkungannya karena komposisi balance memberikan kesan damai dan tenang. Hal ini membuat Fern hadir bukan sebagai “hama” terhadap lingkungan hidupnya, melainkan dirinya adalah bagian dari lingkungan tersebut. Tak jarang juga Richard menggambarkan Fern seolah-olah sangat kecil dibandingkan dunia yang sedang dihinggapi olehnya melalui beberapa shot.

Sumber : Highwayman Films

Sesuai dengan gaya dan selera milik Chloe Zhao, sang sutradara, film ini menyajikan teknik pencahayaan yang sangat natural dan tidak berkesan berlebihan. Hal ini membuat film Nomadland menjadi sangat dekat dengan penontonnya dan terasa lebih nyata. Untuk menyikapi hal ini, Joshua James Richard, Director of Photography, mencoba untuk menunjukkan dominasi karakter melalui komposisi dan blocking. Salah satu caranya adalah ia mencoba untuk menghadirkan Linda (kiri) sebagai tokoh yang mendominasi dengan membuat dirinya tampak lebih 3 dimensi dibandingkan Fern (kanan). Hal ini membuat penonton lebih berfokus terhadap Linda, seperti yang dialami oleh Fern di dalam film. Secara tidak langsung penonton memandang Linda seperti yang Fern lakukan tanpa dekopase atau pemecahan shot yang berlebihan. Tak lupa dengan treatment yang ia terapkan, yaitu floating camera membuat kesan nyata dan sudut pandang milik Fern sangat tersampaikan kepada penonton.

Sumber : Highwayman Films

Sumber : Highwayman Films

Over the shoulder shot menjadi pilihan shot yang sangat berkesan pada film ini. Ketika sineas lain menggambarkan over the shoulder sebagai ikatan atau ketertarikan terhadap karakter lain dan merujuk pada karakter yang semakin akrab, James Richard memilih shot ini sebagai bentuk keterikatan yang akan putus. Ia menggambarkan keakraban karakter hanya melalui shot ini dan pada shot ini juga Fern ditinggalkan oleh tokoh yang sudah ia sayangi. James sangat cerdik dalam menyusun shotnya, ia selalu memecah Fern ke dalam boxnya sendiri. Lalu, menyatukan dirinya dengan karakter lain saat mereka beranjak pergi.

Sumber : Highwayman Films

Adegan ketika Fern melakukan makan malam bersama Dave (berada di sebelah kanan Fern), James memutuskan untuk tidak memberikan cahaya yang cukup kepada mereka. James membuat keputusan yang berlawanan terhadap beberapa buku yang menerangkan bahwa cahaya menuntun mata penonton terhadap karakter. Pada shot ini, sebuah bayangan yang menuntun mata penonton terhadap Fern dan Dave. Kesan romantis yang didapat dari siluet mereka berdua sangat menggambarkan perasaan yang dimiliki oleh mereka. Tak lupa dengan mereka yang sudah pergi sangat jauh dan cukup lama tinggal di dalam van-nya meninggalkan pesan bahwa mereka tidak benar-benar dianggap untuk berada di meja makan itu.

Sumber : Highwayman Films

Pemilihan warna pada film ini juga menggambarkan suasana yang dihadapi oleh Fern. Fern memiiki trauma terhadap keterikatannya, terutama rumah miliknya. Ia terpaksa pergi karena berbagai kondisi yang ditimpa kepadanya, tak lupa dengan keberadaan daerah tinggal yang dihapus oleh negara. Hal ini digambarkan melalui pemilihan warna yang dapat dikatakan mewakilkan perasaan atau suasana yang dimiliki oleh Fern. Warna dingin akan selalu bertebaran ketika Fern berada di luar van miliknya. Namun, ketika ia bekerja dan bertemu dengan orang-orang, warna film akan berubah menjadi netral. Berbeda ketika Fern berada di dalam van-nya, ia merasa sangat nyaman dan aman. Maka dari itu, James memberikan kesan warna hangat di dalam van-nya. Namun, ketika Fern berada di dalam rumah, ia tidak merasakan kehangatan yang dirasakan oleh orang lain. Fern selalu bersembunyi dari cahaya oranye di balik bayangan miliknya sendiri.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 29 Juni 2021