Oleh Gabriella Jeanette Krisveno, Divisi Konten Kamisinema

Sumber : detikHot / Youtube Falcon / dok. FFI / Film Susi Susanti /Fratellowatches.com / ImdB

Iqbaal melekat dengan Dilan, Robert Downey Jr. melekat dengan Iron Man, Laura Basuki melekat dengan Susi Susanti, dan lain-lain. Nama-nama tersebut menunjukkan kesuksesan aktor memerankan sebuah karakter hingga peran tersebut sangat melekat dalam ingatan penonton. Namun ketika terlalu melekat, apakah sudah pasti akan tetap menjadi prestasi yang baik?

Sumber : Surat Kecil untuk Tuhan / Still photo My Idiot Brother

Salah satu bentuk kesuksesan aktor adalah ketika mereka dapat masuk ke dalam sosok diperankan hingga kita melupakan siapa mereka dalam kehidupan nyata. Namun, tak jarang justru sangking menempelnya dengan karakter yang mereka perankan, kita sebagai penikmat film lebih teringat dengan sosok yang mereka perankan dibanding dengan karakter aslinya. Hal ini tentu tidak salah, namun menjadi bahaya ketika mereka beralih memerankan tokoh lain, sedang peran dalam film sebelumnya masih menempel jelas dalam otak kita.

Sumber : Still Photo Titanic / Paramount / Still Photo Shutter Island / Still Photo Inception

Kasus ini bukanlah kasus yang jarang ditemui, walaupun mungkin tak semua penikmat film merasakannya, namun mayoritas pasti pernah merasakan hal yang sama. Didukung juga apabila aktor tersebut sukses memerankan film yang notabene sangat pecah di pasaran, tentu akan banyak sekali penonton yang tidak dapat move on apabila sang aktor memerankan karakter dalam film lain. Peristiwa ini tentu tidak hanya merujuk pada aktor-aktor Indonesia saja.

Sumber : Brilio.net

Salah satu contoh ‘kelekatan’ yang membawa begitu banyak perbandingan, saya rasa adalah Vanesha Prescilla. Sukses memerankan Milea dalam Dilan 1990 yang tayang pada bulan Januari 2018, membuat sosok Vanesha rasanya sudah tergantikan menjadi Milea. Hal ini menjadi awal yang baik bagi Vanesha, namun ternyata menumbuhkan kekecewaan penonton ketika film berjudul Teman Tapi Menikah yang rilis tidak jauh dari Dilan 1990 itu juga diperankan olehnya. Sosok Milea dalam dirinya masih sangat melekat, sehingga banyak penonton yang tidak dapat menjiwai ketika menonton dirinya menjadi seorang ‘Ayudia’, apalagi lawan mainnya juga harus berganti.

Sumber : Still photo Insidious Chapter 2 / Still photo The Conjuring 3

Belum lagi apabila sang aktor menjadi pemeran utama dalam film yang hampir-hampir sama. Contohnya adalah Patrick Wilson. Wilson merupakan salah satu pemeran utama dalam film Insidious dan The Conjuring. Film Insidious dan The Conjuring merupakan dua film series dengan genre horor yang sangat amat populer di dunia. Memiliki pemeran utama yang sama, tidak jarang membuat fokus dan ingatan penonton terhadap timeline sebelumnya cukup tercampur-aduk.

Sumber : Still photo Antares / Kisah untuk Geri / Mariposa / imdb Dua Garis Biru

Sebenarnya memang sangat sulit mengambil titik tengah dan solusi terhadap persoalan ini. Melekatnya aktor dan peran seharusnya menjadi hal yang wajib dalam suatu produksi film. Namun kadang-kadang malah membuat penonton tidak dapat moveon. Tidak ada yang salah dan benar dalam kasus ini, namun jika di Indonesia sendiri sepertinya memilih aktor yang sedang naik daun malah menjadi sebuah kecenderungan. Ketika salah satu aktor sukses memerankan sebuah film atau series, maka selanjutnya kita akan sangat sering menemui mereka di film dan series yang ‘hampir mirip’. Apakah salah? Hmm tentu sebenarnya tidak.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 16 Agustus 2021