Oleh Indigo Gabriel Zulkarnain, Divisi Konten Kamisinema
Iman adalah satu-satunya alat yang dimiliki manusia untuk merasakan keberadaaan Tuhan. Untuk mendengar yang tak terdengar, Melihat yang tak terlihat, Merasa yang tak berwujud. Upaya-upaya manusia dalam mengerti suara Tuhan tergambar dengan apik dalam film Silence dan First Reformed, dimana kedua film memberikan depiksi seorang pemuka agama yang kesulitan memahami Tuhan. Mengerti bahwa relasi manusia dan Tuhannya bukanlah ilmu eksak menjadi modal untuk memperluas diskusi ini. Paul Schrader dan Martin Scorsese memberikan perspektifnya dalam masing-masing film.

Sumber : Dokumentasi SharpSword Fiilms / AI-Film dan A24
Dalam memahami hubungannya dengan Tuhan, manusia seringkali menginterpretasi keadan dan peristiwa sekitar sebagai alat komunikasi. Bukan perkara mudah untuk mendengar yang tidak terdengar, melihat yang tidak terlihat, merasa yang tidak berwujud. Untunk mendengar suaraNya banyak bias interpretasi subjektif yang akhirnya diterjemahkan dalam ketidakpastian. Martin Scorsese dan Paul Schrader mencoba mendengar suaraNya lewat sinema.
Silence dan First Reformed sama-sama menghadirkan sesosok pemuka agama yang terjebak dalam ketidakpastian suara Tuhan. Masing-masing karakter dibangun atas kegelisahan, keraguan, ketakutan, dan kebingungan. Pendeta dan Misionaris yang menjadi wadah spiritual ironinya malah terjebak dalam kebimbangan ini.
Diam Tuhan dalam Silence
Silence berlatar pada abad 17 bercerita tentang dua orang pendeta Jesuit – Rodrigues dan Garupe – dalam perjalananya mencari guru agama mereka, Ferreira yang dikabarkan murtad dalam tugasnya menyebarkan kekristenan di tanah Jepang. Cerita berlatar waktu pada era Edo Jepang, dimana banyak terjadi supresi orang-orang penganut Kristiani. Silence menyajikan gambaran kenelangsaan orang Jepang penganut Kristiani yang harus diam-diam beribadah dan beragama dalam lanskap politik masa itu. Siapapun yang dicurigai sebagai seorang Kristen akan dipaksa murtad atau harus menerima penyiksaan.

Sumber : Dokumentasi SharpSword Fiilms / AI-Film
Dalam perjalananya menuju Ferreria, Rodrigues dan Garupe menyaksikan secara langsung bahaya dari kesetiaan pada iman. Masyarakat Kristen Jepang menyambut mereka seakan-akan sebagai juruslamat. Menanti pembebasan dan pemberi harapan. Rodrigues dan Garupe yang berbahasa inggris kesulitan untuk mengerti kesaksiaan masyarakat Kristen Jepang, pula sebaliknya. Namun harapan dan keteguhan iman masyarakat Kristen Jepang ini tetap digantungkan pada Rodrigues dan Garupe. Kegagalan saling mengerti ini juga membuka ruang interpretasi akan komunikasi manusia dan Tuhan yang tidak dua arah.
Sejak tiba di Jepang, Garupe dan Rodrigues menjadi advokat untuk setia dalam iman. Untuk menjadi martir. Untuk mati demi kepercayaan. Rodrigues melihat dirinya sebagai orang baik, sosok yang menyerupai Yesus. Seorang pahlawan bagi umat Kristiani, pergi ke tanah yang berbahaya, menyelamatkan jiwa, dan mati sebagai martir. Nilai moralnya diuji ketika ia jadi satu-satunya tidak dibiarkan mati.
Berkali-kali Rodrigues diuji. Ia ditangkap dan dikurung bersama umat Kristiani lain. Ia menyaksikan Garuppe dibunuh. Yang terburuk, ia dipaksa melihat para pengikutnya disiksa karena Rodrigues menolak untuk murtad. Inquisitor (sang pemimpin pembasmian Kristiani) melihat bahwa kemurtadan Rodrigues akan memicu efek domino umat Kristiani Jepang untuk melakukan hal yang sama. Sepanjang perjalanan, nilai moralnya berusaha dihancurkan. Segala penderitaan yang dirasakan orang-orang Kristen secara langsung berimbas dari keputusannya untuk berjalan dalam iman. Berkali-kali Rodrigues meminta arahan pada Tuhan dalam doa, namun di akhir hari yang tersisa hanyalah tubuh yang mati dan Tuhan yang diam.
Sumber : Dokumentasi SharpSword Fiilms / AI-Film
Rodrigues yang percaya akan niat mulianya akhirnya dipertemukan dengan Ferreira, misi utamanya. Dalam sebuah dialog Ferreira menjelaskan bahwa masyarakat Kristiani Jepang tidak percaya pada Tuhan dan Injil umat Kristen. Gagal paham ini efek langsung dari perbedaan bahasa. Rodrigues bersaksi bahwa masyarakat Kristen Jepang mati demi Tuhan yang ia sembah, namun Ferreira membantahnya, menegaskan bahwa Tuhan yang masyarakat Kristen Jepang sembah adalah matahari. Berwujud dan terlihat. Bahwa perjuangan penyebaran Kristen di Jepang adalah pelayanan yang sia-sia. Rodrigues datang pada kenyataan bahwa nyawa yang mati disiksa bukan untuk kemuliaan Tuhan, namun untuk kemuliaan dirinya sendiri. Kesombongan dirinya yang merasa telah menjadi sosok Kristus.
Sumber : Dokumentasi SharpSword Fiilms / AI-Film
Dalam akhir perjalannya, Rodrigues dipaksa untuk terakhir kali menyaksikan pengikutnya dibunuh secara perlahan, penuh dengan siksaan. Inquisitor meminta Rodrigues untuk murtad demi menyelamatkan pengikutnya. Imannya yang tinggal setetes diuji kembali. Dalam kebimbangannya, suara Tuhan yang ia tunggu dari awal akhirnya terdengar, memintanya untuk murtad dan menyelamatkan umatnya. (2)
Rodrigues menjadi antitesis kisah perjalanan Yesus. Rodrigues yang merasa bahwa dirinya serupa dengan Yesus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia dan Yesus menjalani pelayanan yang berbeda. Yesus mati untuk keselamatan umatNya, menebus dosa manusia. Ironinya, Rodrigues tetap hidup, namun penderitaan dan kematian harus dihadapi oleh umatnya. Umatnya mati untuk ego Rodrigues. Umatnya mati demi dosa Rodrigues. Ketika Rodrigues memutuskan untuk murtad, pelayanannya jadi refleksi pelayan Yesus. Rodrigues membunuh Kekristenan diri, untuk menyelamatkan umatnya. Perbedaannya adalah bentuk pengorbanan. Yesus mengorbankan tubuh, Rodrigues mengorbankan iman.
Menafsirkan Pesan Tuhan dalam First Reformed
First Reformed menjadi sebuah film yang menggambarkan krisis identitas spiritual seorang pendeta gereja legendaris – namun sepi Jemaah dan dihormati sekedar sebagai museum – setelah pertemuannya dengan seorang aktivis lingkungan dan istrinya yang hamil. First Reformed menunjukkan betapa sulitnya mendengar suara Tuhan, ketika suaranya dikaburkan oleh tafsiran yang berbeda. Suara Tuhan diinterpretasikan sesuai dengan kebutuhan si pendengar.
Sumber : Dokumentasi A24
Seorang pendeta bernama Toller menjadi gembala umat gereja First Reformed, sebuah gereja legendaris dan dihormati kota karena telah berdiri sejak masa perbudakan di Amerika Serikat. Status legendaris ini membuat First Reformed terasa seperti sebuah atraksi turis dan objek wisata, bukan sebagai kesatuan tubuh gereja.
Ia didatangi oleh Mary, seorang perempuan yang sedang hamil untuk konseling mengenai Michael, suami Mary dan seorang aktivis lingkungan yang radikal. Dalam konselingnya Michael bercerita bahwa ia dan Mary harus melakukan aborsi dikarenakan Michael tidak ingin membawa anaknya ke dalam lingkungan yang akan hancur oleh perubahan iklim. Toller memiliki anak yang mati pada perang Irak setelah ia paksa untuk ikut serta bela negara. Dalam menanggapi rencana aborsi Michael, Toller berbicara ekstensif mengenai harapan dan keputusasaan. Bahwa hidup terkonstruksi dari dua elemen tersebut, dan rencana aborsi hanya akan melawan jalan Tuhan yang telah direncanakan.
Mary menemukan sebuah rompi bom bunuh diri dan menghubungi Toller. Bom tersebut diyakini milik Michael. Toller membawa pulang rompi itu dan berjanji akan membicarakan masalah ini bersama Michael. Karakter Toller kemudian digoyahkan ketika mendengar kabar bahwa Michael bunuh diri untuk menyisakan ruang di bumi bagi anaknya yang harus lahir. Kematian Michael meninggalkan sebuah warisan sendiri bagi Toller. Dalam surat wasiat, Michael meminta untuk dikremasi dan abu kremasinya ditebarkan di danau yang dipenuh dengan polutan limbah pabrik. Pasca peristiwa itu, Toller mendalami kecemasan Michael dan menyimpulkan bahwa perubahan iklim merupakan sebuah aksi buatan manusia. Sebuah gaya hidup dan bentuk ketidakpedulian, sebuah bentuk kesombongan manusia.
Sumber : Dokumentasi A24
Dalam ulang tahun First Reformed ke 250, akan diadakan sebuah acara anniversary. Seorang pastor pemimpin himpunan gereja pemilik First Reformed bernama Joel menjadi penggalang dana jangka panjang dan mendapatkan support dari Balq, seorang pebisnis yang pabriknya menghasilkan polutan danau kota, tempat dimana abu Michael jasad ditebarkan. Joel dan Toller terlibat dalam sebuah argumen. Toller meyakini sebuah kepercayaan teologis Stewardship, dimana manusia memiliki kewajiban untuk menjaga alam dan lingkungan yang telah disediakan Tuhan secara cuma-cuma. Toller menolak segala dana yang akan diberikan oleh Balq, namun Joel membantahnya dengan argumen perubahan iklim adalah hal yang diinginkan Tuhan. Perubahan iklim adalah kreasi manusia agar Tuhan dapat memperbaharui, sejalan seperti manusia berdosa agar Tuhan dapat mengampuni. Pada akhirnya First Reformed didanai oleh seorang kontributor perusak lingkungan, membuat gereja First Reformed secara langsung ikut serta dalam penghancuran lingkungan. (3)
Kekecewaan Toller membuatnya terjun dalam sebuah rencana baru. Toller berniat menggunakan rompi bom bunuh diri Michael dalam perayaan ulang tahun First Reformed ke 250. Pada Hari-H, Marry datang ke acara sehingga Toller harus menggagalkan rencananya. Ia menuangkan pembersih toilet ke gelas, berniat meminumnya. Kemudian Marry menghampiri Toller dan film habis dalam open ending.
Toller dan kebingungannya dalam menafsirkan sabda Tuhan membuktikan bahwa suara yang Ia sampaikan bersifat subjektif pada setiap penafsir yang mendengarnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru, apa suara Tuhan benar-benar terdengar atau hal tersebut hanya rekayasa manusia dalam merasionalkan hal-hal yang melenceng dari pertentangan moral? Joel percaya bahwa dana yang ia dapatkan dari Balq dapat digunakan untuk memuliakan Tuhan lewat gereja. Toller percaya bahwa kehancuran lingkungan adalah sebuah dosa permanen manusia, meski begitu gereja seharusnya jadi lini terdepan dalam mengkampanyekan pengampunan dosa. Seperti apa wujud komunikasi Tuhan? Apakah peristiwa konkrit seperti dampak kematian Michael pada Marry? Apakah spiritualitas dalam injil seperti keinginan Joel memuliakan gereja? Ataukah perubahan sentilan psikis yang dialami Toller ketika memahami apa yang sebelumnya ia hiraukan?
Konsep religi memang belum dan tidak akan sepenuhnya dipahami oleh manusia. Mereka dapat datang dengan teori dan cara pandang masing-masing. Sinema bisa jadi salah satu bentuk eksplorasi yang menarik dalam diskursus komunikasi Tuhan dan Manusia.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 9 Agustus 2021