Oleh Moch. Fadliawan, Divisi Konten Kamisinema

Cukup sering ormas-ormas melakukan demonstrasi ketika sebuah film yang dirasa tidak sejalan dengan pemahaman mereka akan tayang. Yang sering disayangkan adalah tidak sedikit film-film yang ditentang justru merupakan film-film yang bagus dan berprestasi.

“Don’t judge a movie by its trailer,” mungkin bisa menjadi istilah yang cocok digunakan untuk mengingatkan mereka.

Sumber : YouTube XD Entertainment

“BOIKOT!”

“TOLAK PENAYANGAN!”

Itulah reaksi beberapa warganet ketika sebuah film yang mengangkat isu sensitif mulai dipromosikan. Penolakan biasanya terjadi karena adanya perbedaan pengalaman terkait SARA dengan apa yang digambarkan dan ditampilkan melalui film tersebut. Ini tentunya menjadi hal yang wajar mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk dan luas.

Namun yang menjadi perhatian adalah kurangnya literasi dan besarnya rasa malas warganet untuk mencari dan menelusuri dengan baik informasi yang mereka terima. Banyak sekali film yang menjadi bahan perdebatan padahal baru muncul trailernya saja. “Dua Garis Biru” pernah merasakan lugunya sebagian warganet Indonesia karena dianggap sebagai film yang mempromosikan perzinahan, padahal isi filmnya sangat berbeda dari tuduhan tersebut bahkan sarat akan makna.

Sumber : Change.org

Sebagai negara beragama, isu LGBT menjadi salah satu isu yang paling menentang. Karya-karya yang mengangkat dan memiliki tema ini akan menjadi sasaran empuk untuk diceramahi habis-habisan. Namun yang perlu dipahami oleh seluruh warganet adalah bahwa tidak semua karya bertema LGBT berisi ajakan atau dukungan untuk komunitas tersebut.

Melalui film “Bersenyawa”, Rembulan N Sihotang mampu menulis serta menyutradarai sebuah film pendek bertema LGBT. Bukan menampilkan sebuah ajakan atau dukungan terhadap komunitas LGBT, Rembulan N Sihotang berusaha berada dipihak yang cenderung netral dengan memberikan tontonan yang edukatif tanpa memojokkan dengan mengajak penontonnya untuk memahami dua pandangan berbeda mengenai isu tersebut.

Sumber : YouTube XD Entertainment

Berkisah tentang petualangan Albert dan Ilham yang berusaha mencari pembenaran atas kesalahan yang mereka perbuat. Film ini memberi pemahaman bahwa tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan adanya hubungan homosexual. Pemahaman open minded yang salah kaprah juga sedikit disinggung oleh film ini melalui dialog seorang Wen Shi yang mengatakan bahwa terbukanya pikiran seseorang bukan berarti seseorang boleh membenarkan hal yang salah.

“Aku, Kamu, memang bukan kesalahan. Tapi kita!”

Kalimat terakhir sebelum akhirnya film ini selesai, menjadi konklusi serta penegas bahwa kesalahan tersebut tidak akan terselesaikan sampai akhirnya mereka sadar.

Sumber : YouTube XD Entertainment

Setiap sineas tentunya memiliki alasan kuat untuik tetap menggarap ceritanya. Cerita dalam film tentunya tidak dibuat tanpa pengamatan serta pencarian data yang matang. Justru banyak sekali cerita dalam film yang memang dibuat berdasarkan kisah nyata yang bertujuan sebagai media pengingat bahkan sindiran.

Bagaimanapun, segala demonstrasi yang sering dilakukan adalah bentuk kepedulian seseorang terhadap pemahamannya. Namun yang perlu dingat kembali adalah bahwa setiap cerita adalah sebuah bentuk ekspresi sineasnya. Entah itu untuk merespon kehidupan sosial yang ada, maupun sebagai media penumpah pikiran. Para warganet seharusnya mampu mengapresiasi setiap karya yang ada. Alih-alih melakukan penolakan dan cenderung tidak menerima fakta buruk yang ada.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 2 Agustus 2021