Oleh Indigo Gabriel Zulkarnain, Divisi Konten Kamisinema

Nomadland menjadi film terbaik versi Oscar 2021. Keksuksesan itu tidak jauh dari keberhasilan Chloe Zhao dalam mengeksekusi visinya secara terukur. Substansi cerita yang digabungkan dengan gaya pendekatan Zhao pada filmmakingnya menarik untuk dikuliti. Siap atau tidak, Hollywood telah kedatangan auteur baru dari ranah film independen. Oscar winning director, Chloe Zhao.

Sumber : Matt Petit – A.M.P.A.S. via Getty Images

Dibalik dari acara yang berantakan, ada beberapa gem menarik yang bisa dirayakan dari Oscar 2021. Nomadland berhasil membawa pulang 3 piala Oscar. Best Actress untuk Frances McDormand, kategori paling bergensi Best Picture untuk Nomadland, juga Best Director untuk Zhao. Kemenangan Zhao sekaligus menjadi trofi pertama untuk sutradara wanita non kulit putih. Suara unik Zhao menjadi alasan paling kuat mengapa Nomadland menjadi film yang berhasil.

Nomadland bercerita tentang Fern, seorang wanita paruh baya yang harus kehilangan rumah dan suaminya imbas dari resesi ekonomi Amerika Serikat tahun 2008. Kesendirian dan kesedihan membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kehidupan lama dan menjadi van dwellers. Fern memindahkan rumahnya kedalam sebuah van. Cerita kemudian membawa kita dalam sebuah petualangan nomaden Fern untuk mencari pembebasan diri lewat orang-orang yang ia jumpai, dan pemandangan alam yang ia nikmati.

Sumber : Dokumentasi Searchlight Pictures

Chloe Zhao mentransformasi sebuah buku non fiksi tentang pengalaman banyak individu, menjadi sebuah naskah studi karakter yang kompleks. Karakter Fern menjadi seorang manusia yang utuh melalui perjalanan dan pengalaman. Film dibuka dengan shot Fern dalam sebuah garasi. Fern kemudian mengambil jaket suaminya, menciumnya dan menangis. Fern tergambar sebagai karakter yang ringkih secara emosional. Fern juga diperlihatkan kerap kali menolak bantuan orang, mendepiksikan sebuah karakter yang tidak membiarkan dirinya rentan akan ikatan emosi. Uniknya, Zhao tidak memanipulasi emosi penonton agar merasa turut prihatin padanya. Fern menjadi karakter kompleks yang dibangun secara subtil.

Sumber : Dokumentasi Searchlight Pictures

Visual yang diberikan Zhao ikut bercerita. Dalam gaya tipikalnya, Zhao menggunakan gaya sinematografi lensa pendek dan gerakan kamera handheld. Lensa pendek ini mengemphasis kesendirian Fern dalam lanskap amerika yang luas. Fern, seorang karakter kecil diantara hutan dengan pohon yang besar, umpukan jerami, komplek perumahan kosong, atau jalanan sepi kota pada malam hari. Lensa pendek ini juga membumikan Fern dengan dunia sekitarnya. Meski kecil, Fern adalah bagian dari latar. Gerakan kamera bergaya handheld dokumenter juga berhasil menjaga keintiman Fern dengan penonton. Seperti teman baik, berada disampingnya setiap saat. Pencahayaan naturalistik yang dipadukan dengan desain suara minimalistik membuat Nomadland terasa sangat jujur, disaat bersamaan pula terasa imersif.

Sumber : Dokumentasi Searchlight Pictures

Seperti 2 film sebelumnya, Zhao – yang berperan sebagai editor – memilih gaya formalisme dalam pendekatan editing. Banyak cut yang dibuat tanpa memperhatikan kontiniti, menyerupai montase. Konsep temporal dan spasial tidak menjadi baku dan tidak harus masuk akal. Impersionistik. Namun ajaibnya filmnya mengalir secara natural. Gaya ini membebaskan konsep dan teknik filmmaking lain agar dapat masuk ke ruang yang sama. Memerlukan intuisi yang kuat dan pengetahuan yang dalam terhadap film (naskah, produksi, dan post produksi).

Sumber : Dokumentasi Searchlight Pictures

Perannya sebagai sutradara, penulis naskah, dan editor memberi Chloe Zhao kontrol unilateral atas produk akhir. Pilihan artistiknya digunakan bersamaan dengan substansi cerita yang ingin disampaikan. Otoriter Zhao atas film yang ia buat turut meberikan harapan hadirnya gelombang auteur auteur baru dari sineas independen. Chloe Zhao dan Oscar terlahir untuk bersatu. Oscar Winning Director, Chloe Zhao.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 9 Mei 2021