Oleh Rudra Maitri, Divisi Konten Kamisinema

Sumber : Marvel Studios / Walt Disney Pictures (2015)

Jika anda merasa tak pernah ingat rupa seorang prajurit pihak antagonis, kemungkinan itu bukan salah anda. Yang mampu diingat dari mereka adalah mereka berjumlah banyak, memegang senjata, dan selalu mati dalam shot yang juga merupakan penampilan pertama mereka. Memang betul lawan mereka keseringan tak sebanding, tetapi apakah itu boleh selalu menjadi alasan? Bukankah kehadiran mereka seharusnya menjadi rintangan? Atau jangan-jangan, bahkan tidak difungsikan sebagai itu? Dalam tulisan hari ini, penulis mencoba menguak alasan serakah dari kehadiran mereka.

Sumber : Marvel Studios / Walt Disney Pictures (2017)

Terkadang, yang jauh, diperjuangkan. Yang telak di depan mata menghadang, terhiraukan. Bukan, bukan dalam konteks percintaan atau pelajaran hidup tetapi, secara harfiah, saya membicarakan tentang pasukan bodoh antagonis dalam film.

Sumber : fifpro.com

Masalah ini sudah lama penulis keluhi, tetapi terpicu kembali oleh adegan-adegan perang dua film Avengers terakhir, Infinity War dan Endgame. Kedua film ini memiliki peran yang sangat krusial. Benih yang ditanam tahun 2008 (Iron Man) tumbuh membuahkan fenomena dalam sejarah sinema. Berbagai pahlawan bersama perilaku dan petualangannya mengadakan pertujukan di tempat mereka masing-masing, dan semua menyudut ke satu tujuan, yaitu kedua film tersebut. Infinity War dan Endgame diekspektsaikan menjadi titik di mana rangkaian plot yang disusun selama sepuluh tahun itu pecah. Unsur termahalnya adalah menyaksikan crossover yang tiada habisnya. Di medan perang, para hero tercinta yang tadinya selalu terpisah oleh ruang, kini bekerja sebagai tim. Di sana, banyak dari mereka yang baru pertama kali bertemu dan harus bersandingan, berkomunikasi, dan saling membantu. Sebagai fans tentu ini pornografi, layak menonton Team of The Year Ballon D’or benaran bermain dalam satu tim. Momen tersebut tidak bisa tereksekusi dengan salah. Maka itu, bagai Tuhan, Marvel mengabulkan semua permohonan. 

Sumber : Avengers : Infinity War Concept Art by Ryan Lang

Demi menyorot spotlight kepada keseruan crossover, Marvel membuang semua kepentingan membuat film baik. Kita lihat dari kacamata terluas, bukankah perang ini momen yang vital bagi karakter? Sehebat apapun karakter, bukankah seharusnya nyawa mereka terancam di sini? Dalam eksekusinya, perang ini dimanfaatkan untuk memberi waktu untuk fans “ber-norak-ria” melihat hero-hero yang tadinya tidak memiliki hubungan apapun menjadi hadir dalam satu frame dan juga men-showcase kekuatan mereka masing-masing untuk menunjukkan kontribusi mereka dalam menyelematkan dunia. Kita melihat momen-momen menarik seperti Spider-Man bergelantung di Mjolnir yang dilempar Captain America, Wanda menyingkirkan halangan Valkyrie terbang, dan sebagainya. Walau tidak bisa dipungkiri keseruannya, justru masalah besar timbul dari situ. Ada satu hal yang banyak orang tak sadar: Peran prajurit Thanos selalu menyesuaikan momen-momen tersebut.

Sumber : Sgt. 1st Class Osvaldo Equite

Tanpa hentinya, prajurit datang dengan sifat mengeroyok/membabi-buta ketimbang menunjukkan ketertaan sebuah pasukan. Fakta tersebut menunjukkan ketidakpedulian penulis terhadap detail. Jika berstadion-stadion pasukan diturunkan ke medan tempur oleh karakter antagonis pintar dan berambisi besar, selemah apapun mereka, bukankah pasti memiliki alasan? Apakah Thanos, seorang mastermind, berpikir bahwa serangan asal adalah strategi terbaik? Tidakkah mereka dilatih untuk menaklukan lawan yang memiliki kekuatan-kekuatan super?

Sumber : Marvel Studios / Walt Disney Pictures (2019)

Kepentingan menunjukkan atraksi ini juga melampaui logika dari kekuatan prajurit antagonis yang tak pernah jelas. Kehadiran mereka selalu dipermainkan. Seperti di sini, di mana sebanyak masyarakat satu kota menyerbu agar terlihat keramaiannya, lalu kontinuitasnya tidak sebanyak ketika shot jauh. Medan perang tetap terlihat sepi di satu area walaupun telah kita saksikan betapa banyaknya mereka di shot-shot “serbu!”. Keramaian mereka juga selalu ditutupi oleh asap dan palet warna mereka yang monokromatis sehingga sulit untuk dilihat. Beberapa dari mereka yang jelas mampu menaklukan hero, secara simple dibuat kalah saja seperti entah apa yang Hawkeye dan Black Widow lakukan untuk membela diri dari serangan ratusan robot, Valkyrie yang hanya mengandalkan combat dua pedang kecilnya melawan pasukan berbondong-bondong, atau Captain America menghantam anjing gila sebesar 3 meter. Permainan-permainan tersebut berfungsi tak lain sebagai plot armor, di mana dengan kekuatan yang penulis ciptakan sendiri, penulis tidak bisa menyelamatkan para pahlawan mereka sendiri sehingga mereka mengambil langkah curang.

Sumber : Marvel Studios / Walt Disney Pictures (2015)

Sumber : Warner Bros. Pictures / HBO Max

Memang protagonis film aksi selalu memiliki kemampuan yang lebih, tetapi tak boleh selalu dijadikan alasan. Dalam cerita ada detail dan logika yang harus menetap, yang berhak dipercaya oleh penonton. Itulah mengapa adegan baku-hantam non-perang lebih menantang untuk dilihat karena setidaknya mekanisme dan proses menang bisa terekam lebih rinci. Maka, berilah ketelatenan kepada adegan-adegan perang ini. Jika memang karakter yang dicinta harus terluka, terlukalah. Biarkan cerita mengalir sesuai dunia yang menghendakinya, kelak nanti bisa berakhir indah juga kok (wink, Snyder’s Cut).  Bukankah kekuatan sebuah film datang dari cerita? Jika tidak, mengapa tidak isi durasi 2 jam itu dengan adegan berantem saja?

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 6 Mei 2021