Oleh Gabriella Jeanette Krisveno
Sutradara memiliki gayanya masing-masing dalam mengintepretasikan suatu cerita. Sebelum masuk ke dalam tahap bagaimana mereka sangat berbeda dalam mengintepretasikan suatu naskah, perbedaan awal yang dapat kita lihat adalah pemilihan tema atau genre cerita apa yang ingin mereka eksekusi. Dimulai dari pemilihan genre dan jenis ceritanyapun, kita sudah dapat melihat perbedaan karakter masing-masing sutradara. Contohnya di Indonesia, film bergenre komedi sudah menjadi makanan sutradara kondang Ernest Prakasa dan Raditya Dika. Namun walaupun sama-sama menjadikan genre komedi sebagai makanan mereka, tema film yang mereka usung sangat berbeda, Ernest yang selalu membawakan ataupun menyelipkan unsur keluarga, dan Radit yang selalu membawakan unsur romansa. Begitupun dengan James Wan dan Mike Flanagan, yang walaupun keduanya sangat berhasil dalam menggarap film-film bergenre horror, namun gaya penceritaannya cukup berbeda.
Dari pernyataan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap sutradara memiliki zona aman dan nyamannya masing-masing. Namun ternyata, ada beberapa bahkan cukup banyak sutradara dengan pamor dan kesuksesan cukup tinggi, yang mencoba untuk keluar dari zona aman mereka. Mencoba berbagai genre baru, yang tentunya juga membuat mereka harus memberi treatment-treatment yang berbeda dari yang mereka lakukan biasanya.

Di sini penulis mulai memikirkan keresahan ini setelah dalam waktu yang berdekatan, menonton dua film dari dua sutradara yang mencoba keluar dari zona amannya, yakni Riri Riza dengan film Paranoia, dan juga Ernest Prakasa dengan film Teka-Teki Tika. Seorang Riri Riza yang telah sangat sukses dengan film Laskar Pelangi nya, Petualangan Sherina nya, serta AADC nya, secara (mungkin juga tidak) tiba-tiba, menjajal sebuah genre baru yakni thriller dalam film terbarunya yakni Paranoia. Bagaimana hasilnya? Rating 2.5/5 dari aplikasi Letterboxd. Jauh berbeda dengan film lainnya, yang genrenya sudah menjadi makanannya, yakni Laskar Pelangi dan Petualangan Sherina, yang mendapat rating 3.9/5. Bahkan secara subjektif, penulis tidak dapat merasakan sentuhan-sentuhan dan gaya Riri Riza dalam film Paranoia ini.
Begitu pula dengan Ernest Prakasa. Setelah hampir selalu sukses dengan genre komedi-keluarga yang juga sudah sangat menjadi makanannya, Ernest menjajal keluar dari zona nyamannya lewat film Teka-Teki Tika. Walaupun masih terdapat unsur komedi dan keluarga, namun filmnya yang kali ini lebih berfokus pada misteri. Bagaimana hasilnya? Rating 2.4/5 dari aplikasi letterboxd. Nilai ini kembali sangat jauh dari film-filmnya yang lain. Ernest seperti bingung mencari jati dirinya dalam film ini, membuat banyak sekali kesan nanggung yang tercipta. Walaupun sebenarnya, berbeda dengan Riri Riza, di film ini sebenarnya saya masih dapat merasakan gaya penceritaan seorang Ernest. Namun Ernest versi kehilangan jati diri.

Dua kasus di atas mungkin memberi kesan bahwa sutradara sebenarnya tidak perlu untuk keluar dari zona amannya. Namun sebenarnya tidak semua sutradara yang mencoba keluar dari zona amannya membuahkan hasil yang buruk dan kehilangan jati dirinya. Contoh satu nama yang juga saya sebut di awal adalah Raditya Dika dengan film Hangoutnya. Walaupun sebenarnya juga tidak terlalu berhasil karena masih cukup banyak kritikan pada film ini, namun setidaknya Radit masih sangat membawa gaya dan karakternya dalam mengeksekusi genre komedi-thriller-misteri ini. Jika Raditya Dika masih dalam kategori lumayan, ada beberapa sutradara yang dapat dikatakan sukses ketika debut menyutradarai film yang bukan zonanya. Angga Sasongko dengan genre action di film Ben & Jody, serta dalam dunia hollywood terdapat James Wan yang biasa menyutradari film-film horror namun kala itu berani menolak tawaran menyutradarai film Insidious 3 dan lebih memilih Furious 7 yang malah bergenre action. Namun ternyata film Furious 7 itu malah berhasil mendapat rating di atas 3. Selain dua nama itu tentu masih ada beberapa sutradara yang berhasil membuktikan bahwa mereka dapat keluar dari zona amannya.
Kembali pada pertanyaan di awal, tentunya perlu ataupun tidak perlu bukanlah sesuatu yang perlu untuk diperdebatkan. Jika kita kembali mengibaratkan seorang penyanyi, tentu saja Via Vallen tidak akan seapik Judika ketika menyanyikan lagu bergenre pop dengan nada-nada tingginya. Namun apakah bisa? bisa-bisa saja apabila ia mau mempelajarinya. Buktinya saja, Judika kini justru juga dikenal mampu menyanyikan lagu-lagu dangdut, bahkan kemampuannya hampir setara dengan Via Vallen. Pengibaratan ini saya maksutkan juga mungkin terjadi dan terterapkan pada sutradara. Bisa saja mereka keluar dari zona aman mereka jika ingin mencoba dan mempelajarinya, namun juga tak menjamin hasilnya apik. Tentu akan lebih menarik apabila setiap sutradara memiliki karakter yang tetap mereka bawa dalam mengeksekusi genre apapun, sama seperti seorang penyanyi yang tetap membawakan karakternya dan tidak berusaha menjadi penyanyi lain ketika membawakan lagu yang di luar genrenya.

Baru saja menonton dua film hasil karya debutan sutradara yang mencoba keluar dari zona amannya, yang ternyata sangat berada di bawah ekspektasi, membuat penulis memunculkan pertanyaan, apakah sebenarnya perlu seorang sutradara yang sudah memiliki karakter dan makanan masing-masing, sesekali keluar dari zona amannya? Bagaimana tanggapan pembaca terhadap pertanyaan tersebut?