Oleh Regita Andianti, Kamisinema

[spoiler alert] Kalau kalian lihat judulnya.. jangan boong, kalian ngira bakal ngomongin tentang cowo ga? Ga selamanya yang mikirin tentang betina cuma pejantan aja. They say zaman sekarang, empowering women, women supporting women, the future is female, etc. Tapi kita bukan mau ngomongin itu, tulisan ini akan membahas tentang salah satu karya dari berbagai film ciptaan sutradara Celine Sciamma yang dikenal sebagai filmmaker feminist and openly lesbian. Pemenang Best Screenplay dan penghargaan Queer palm pada Cannes Film Festival 2019 “Portrait of a Lady on Fire”. Sebagai seorang feminist dan woman lover, Sciamma meleburkan ketiga slogan tadi melapisi seluruh karya filmnya. Terutama pada masterpiecenya ini, film historical romantic same sex drama ber-setting pada abad 18 di Prancis. Another romance film.. but this one’s unusual

Sumber : Lilies Films / Arte

“Portrait of a Lady on Fire” adalah film bergenre historical romantic drama Prancis produksi tahun 2019. Merupakan karya Sutradara sekaligus Penulis Celine Sciamma dengan Cinematographer Claire Mathon. Film ini telah menjuarai kategori Screenplay dan Queer Palm pada Cannes Film Festival 2019. Fyi, Queer Palm adalah hadiah sponsor independen yang ditujukan untuk nominasi film terpilih Cannes Film Festival dengan tema LGBT. Penghargaan ini mengakui sebuah film atas treatment terhadap tema LGBT yang diangkat dalam film tersebut. 

Berbicara tentang queer dan LGBT, sutradara Celine Sciamma adalah seorang feminist dan lesbian. Sciamma dikenal sebagai filmmaker yang selalu menuangkan unsur seputar ironi hubungan perempuan dan wanita sebagai main focus pada hampir seluruh karyanya. Salah satunya film ini. Merupakan suatu kebanggaan besar untuknya dapat meraih Queer Palm. Hal ini menjadikan Sciamma sutradara Wanita pertama yang dianugrahi penghargaan tersebut.

Sumber : Lilies Films / Arte

Berlatarkan abad ke-18, film Portrait of a Lady on Fire bercerita tentang Marrianne seorang pelukis wanita, ditugaskan untuk melukis potret diri Heloise seorang gadis bangsawan konservatif yang akan segera menikah dengan pria bangsawan pilihan ibunya. Marrianne dipesankan oleh ibu Heloise bahwa ia sulit untuk dilukis. Sudah ada beberapa pelukis sebelumnya dengan tugas yang sama, namun mereka gagal melukis wajah Heloise terlihat bernyawa, dikarenakan pernikahan yang tak ia hendaki akan terjadi setelah lukisan dirinya tercipta. Untuk itu Marrianne bersikap seakan ia adalah suruhan ibu Heloise untuk menemani Heloise dalam kesehariannya. Dalam waktu yang diberikan, Marrianne menghabiskan hari – harinya menemani Heloise kemanapun ia pergi, dengan tujuan mengamati wajah Heloise untuk diingat lalu mulai melukisnya ketika malam datang. Lukisan selesai, namun Marrianne tidak merasa puas dengan hasilnya. Ada perasaan ia telah berkhianat dengan Heloise yang kini telah terbentuk “some type of bond” ( ͡° ͜ʖ ͡°) diantara mereka. Lukisan ditunjukan pada Heloise, ia kemudian mengkritik lukisannya. Semakin tidak puas, Marrianne menghancurkan lukisan tersebut, kemudian meminta izin untuk mengulangnya kembali. 

Sumber : Lilies Films / Arte

Untuk pertama kalinya Heloise setuju untuk dilukis secara langsung, maka Ibu Heloise memberikan kesempatan waktu beberapa hari hingga dirinya pulang dari perjalanan ke Perancis. Setiap harinya mereka berdua dengan seorang asisten rumah tangga pesuruh ibunya bersenang – senang layaknya wanita remaja bebas pada masanya, menghabiskan waktu hingga hari pernikahan Heloise datang. Berbagai aktivitas mereka lakukan, Heloise yang tertutup belajar banyak pengalaman baru mulai dari musik klasik, cerita legenda, festival, hingga menyaksikan aborsi pembantunya dan merasakan bercinta dengan perempuan. Waktu semakin sempit, sama halnya dengan jarak diantara Heloise dan Marrianne. Entah apa namanya namun mereka tidak lagi sebatas pelukis dan objek. Marrianne benci setiap bayang Heloise mengenakan gaun pernikahan yang ia lihat. Heloise menginginkan setiap memori saat ia bebas dari kekang ibunya hingga menemukan cinta pertama, terkenang dalam sketsa gambar yang Marrianne curahkan pada lembar buku tulisnya. 

Sumber : Lilies Films / Arte

Film ini mungkin menjadi film historical romantic drama dalam kategori same sex love ter-romantis yang pernah saya tonton. Sciamma menyusun secara apik beragam media dalam mengikat keseluruhan isi film secara kompleks. Media terkait tersebut ia taburkan sebagai unsur semiotik sepanjang cerita berjalan, seperti kisah legenda percintaan Orpheus dan Eurydice yang dijadikan metafor perjalanan kisah cinta kedua perempuan ini, classical piece “Four seasons” by Vivaldi, penggambaran sekelebat bayangan Heloise dalam gaun pernikahan yang show and fade out of nowhere blends in real-time reality (jujur gue kira itu di set mimpi/udah meninggal jadi hantu), terus berhasil menipu mata saya dengan “kreasi” sex scene yang awalnya membuat saya membanting layar laptop namun ternyata tidak se-explicit yang terbayang sama sekali, dan banyak scene lainnya yang menyiratkan pesan menggunakan adat, kebudayaan, kepercayaan setempat pada era 18 di rural Prancis. Sepertinya pribadi Sciamma sebagai seorang lesbian yang romantis, sukses membangun hubungan antar kedua tokoh tersebut fell deep in love secara unik in such way as if there’s any romantic film born in 18th century would do

Sumber : Lilies Films / Arte

Teknik ini juga mengaitkan cerita pada plot awal, pertengahan, dan akhir yang akan bertumbuh saling berkesinambungan memberi penonton efek “telat sadar” kemudian begitu sadar, hanyut baper terbawa emosional yang terus memuncak (ini gue aja yang baperan apa gimana). Komplit dengan penekanan dari pilihan framing dan camera work cinematographer Mathon, didukung kesamaan visi dengan Sciamma. 

Masuk ke dalam bidang sinematografi, giliran Mathon yang mengeksplorasi ranah tekstur dan pencahayaan tentunya dengan persetujuan Sciamma. Berhubung konflik film ini berfokus pada objek lukisan dengan set abad ke-18, Mathon menggunakan teknik soft high key light, dengan konsep yang memberikan seakan seluruh aktris beserta adegan tertangkap di frame adalah kehidupan di dalam lukisan. Ternyata konsep tersebut sekaligus membantu memberi penambahan kesan vibes dan aura setting di pedesaan Prancis seperti era waktu yang dituju.

Sumber : Lilies Films / Arte

Tentunya film ini tidak hanya berfokus dengan sisi romantisnya saja. Dalam padatnya pembangunan fondasi kedua main character, Sciamma tidak lupa menempatkan struggle wanita pada abad 18 yang hingga masa kini masih terjadi. Pada film ini, Sciamma memunculkan isu pemaksaan pernikahan perjodohan demi kuasa dan kekayaan yang hanya bisa didapatkan dari pria tajir bukan karena dasar cinta atau consent dari kedua pihak. Kemudian perjuangan perempuan yang telah dibuahi kemudian ditinggalkan, bersusah payah menggugurkan kandungannya dan berakhir dengan aborsi yang mengerikan atau panti asuhan jika janin tidak berhasil gugur. Divisualisasikan se-dramatis mungkin menonjolkan ironi yang ada sebagai pencerahan bagi insan audience yang diharapkan dapat meningkatkan awareness ataupun mengambil bagian dalam merubah tatanan hidup sosial yang berlaku dimasa kini.Sekilas fun fact, dalam proses produksi film Portrait of a Lady on Fire, Sciamma yang pada dasarnya berkuasa dalam keseluruhan proses produksi dengan role penulis merangkap sutradaranya, mempunyai kebebasan dalam memilih kru secara eksklusif. Dan mayoritas kru dan cast yang terpilih adalah perempuan. Fact berikutnya akan terdengar sedikit gosip, tapi aktris yang memerankan Heloise merupakan mantan pacar sang sutradara Sciamma. Hal ini membuktikan bahwa gender equality is possible and valid, also exes do has a chance to remain as good friends (enggak bukan curhat).

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 20 Juni 2021