Oleh Gabriella Jeanette K., Divisi Konten Kamisinema
Pernah menonton film Kuyup? Ketika menonton film itu, pasti kita berfikir banyak sekali hal-hal yang tidak masuk diakal, namun entah mengapa amat banyak yang menyukai film tersebut. Hal ini menunjukkan jika imajiinasi tak terbatas oleh suatu. Kalimat itu juga dibuktikan oleh film Predestination, yang ketika usai menontonnya, pasti kesan pertama yang terfikiran adalah “nggak masuk akal.”Walaupun film ini genrenya adalah sci-fi, namun nggak masuk akalnya film ini bukan hanya sebatas teknologi, melainkan benar-benar dari cerita keseluruhannya.

Sumber : Sony Pictures Entertainment
Ketika membuat ide cerita suatu film, masuk akal atau masuk logika menjadi salah satu pertimbangan paling utama. Terkadang kita berfikir bahwa alur cerita yang tidak masuk akal tidak akan dapat diterima oleh penonton. Ya, mungkin benar. Namun ternyata, bisa juga salah. Hal ini dibuktikan oleh film Predestination (2014) yang disutradarai oleh Michael Spierig dan Peter Spierig.

Sumber : Sony Pictures Entertainment
Predestination bercerita tentang seorang agen pemerintah yang mempunyai misi menghentikan kasus pengeboman oleh “The FizzleBomber”, yang peristiwanya telah ditunjukkan dahulu di awal film. The Fizzle Bomber selalu berhasil kabur dari pihak berwajib. Lalu bagaimana agen rahasia tersebut menjalankan misinya? Menggunakan mesin waktu. Mesin waktu di sini diletakkan dalam sebuah kotak biola. Penjelajahan mesin waktu mungkin sudah terdengar tidak masuk akal, namun hal itu tentu masih bukan bagian pamungkasnya. Namun mesin waktu inilah yang memegang peran utama.

Sumber : Sony Pictures Entertainment
Kompleksnya cerita ini diawali ketika sang agen rahasia bertemu dengan seorang laki-laki yang juga seorang perempuan pada sebuah bar. Orang itu menceritakan kisah hidupnya pada sang agen rahasia. Sang agen (yang sebenarnya sudah mengenalinya) merasa terpelalang akan kisah hidup orang tersebut, hingga akhirnya mereka melakukan misi bersama dengan kembali ke masa lalu. Ketika kembai ke masa lalu, mereka usia sekarang dapat bertemu sekaligus berinteraksi dengan dirinya di masa lalu. Sudah terbayang akan menjadi apa?

Sumber : Sony Pictures Entertainment
Pertanyaan legendaris “Telor dulu atau ayam dulu” mungkin menjadi ide utama pembuatan karya film ini. Ya benar, tidak ada ujungnya. Banyak sekali pertanyaan muncul ketika usai menonton film ini. Persis dengan petanyaan legendaris yang ada di awal. Namun entah mengapa ketidak masuk akalan inilah yang membuat film ini memiliki daya tarik tinggi. Bahkan walaupun tidak masuk akal, rating film ini dapat dikatakan tinggi, yakni 7.5/10 IMDB. Kembali ke kalimat awal, ternyata ide cerita yang tidak masuk akal bisa menjadi ketertarikan pribadi bagi banyak orang, tentu dengan eksekusi yang tidak asal-asalan. (Kalimat terakhir masih dapat ditentang oleh film Kuyup :D)
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 29 April 2021