Oleh Brigita S., Kamisinema
Meskipun terkenal karena menjadi salah satu film timeless bergenre drama romantis yang masuk dalam kategori enemies-to-lovers trope, Pride and Prejudice (2005) memberikan gambaran lingkungan sosial yang patriarkis dan represif terhadap perempuan. Not to mention, penggambaran wanita sebagai komoditi pasar juga diperlihatkan secara eksplisit lewat penokohan dan alur cerita sepanjang film. Tulisan ini akan menganalisis kritik sosial yang terjadi pada film Pride and Prejudice dan kaitannya pada masa kini.

Sumber : Studio Canal / Working Title Films via IMDb
Wanita. Pernikahan. Patriarki.
Ketiga hal tersebut membentuk sebuah piramida konstruksi sosial di era Regency. Sebagai latar belakang, era ini terjadi sekitar tahun 1795 sampai 1873 di negara Britania Raya dan terkenal akan karya-karya seni dan literatur yang tidak pernah mati. Pride and Prejudice (2005) merupakan film adaptasi dari sebuah literatur klasik yang ditulis oleh Jane Austen pada tahun 1813. Bercerita tentang kehidupan keluarga Bennet yang gencar mencari menantu agar warisan tetap bertahan di tangan anak-anak perempuannya, Elizabeth Bennet menemukan cinta di Mr. Darcy, pebisnis kaya yang judgemental. Film ini masih populer di kalangan masyarakat dan kerap kali dikategorikan sebagai comfort movie di media mainstream karena cerita romantis nan intens Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy.

Sumber : Studio Canal / Working Title Films
Namun, dibalik kisah cinta romantis yang menjadi sorotan utama, terdapat sebuah gambaran konstruksi sosial yang cukup represif dan kelam bagi golongan wanita. Pada zaman tersebut, warisan menganut sistem patriarki, memberikan keseluruhan properti dan harta yang dimiliki oleh suatu keluarga jatuh kepada ahli waris berjenis kelamin laki-laki — memberikan wanita kekosongan secara finansial dan kepemilikan. Hal ini terjadi pada keluarga Bennet yang tidak mempunyai keturunan laki-laki sehingga kepemilikan properti dan harta — saat Mr. Bennet meninggal — akan jatuh pada saudara sepupu terdekat, Mr. Collins. Salah satu jalan keluar agar sebuah keluarga tanpa ahli waris laki-laki tetap memiliki kepemilikan harta adalah mencari menantu. Menikah akhirnya menjadi tujuan hidup utama para wanita di era Regency.
Wanita pun akhirnya harus menjadi komoditi pasar untuk bertahan hidup dan memuaskan sistem sosial yang patriarkis. Menjadi hal yang lumrah bagi wanita dan gadis muda untuk dipamerkan pada acara-acara sosial ke laki-laki yang masih melajang maupun duda dengan harapan bisa mendapatkan pasangan pernikahan yang mumpuni. Aksi ini direpresentasikan melalui penokohan Mrs. Bennet yang tidak pernah lalai memamerkan setiap anaknya seakan instalasi seni dalam sebuah acara pameran (red: acara dansa, house visit, etc) dan karakter Lydia Bennet yang merasa kehidupannya berporos pada laki-laki ‘jantan’. Fenomena ini akhirnya membentuk sebuah kualitas-kualitas yang harus dilakukan kedua gender untuk membangun prestise dan popularitas. Poin-poin selanjutnya sempat disebutkan dan/atau di-implikasi oleh beberapa tokoh di film. Laki-laki akan dirasa mumpuni oleh masyarakat ketika mempunyai posisi dan finansial yang kuat, sementara perempuan dirasa mumpuni menjadi seorang istri ketika mereka mempunyai (1) keluarga yang terhormat; (2) permainan musikal yang bagus; (3) berpengetahuan luas terhadap literatur; (4) mempunyai fisik yang menawan; (5) penurut, sopan, dan santun.

Sumber : Studio Canal / Working Title Films
In a sense, kedudukan sosial yang tidak imbang antar gender di masyarakat membentuk sebuah stereotip yang berpengaruh terhadap personality akan masing-masing gender. Dalam Pride and Prejudice, laki-laki cenderung digambarkan sebagai individu yang congkak karena merasa dibutuhkan oleh perempuan. Hal ini terlihat dalam adegan lamaran Mr. Collins dan Mr. Darcy yang angkuh karena merasa Elizabeth Bennet lebih membutuhkan pernikahan dan harta mereka. Disinilah terjadi sebuah aksi revolusioner — pada masanya — melalui karakter Elizabeth. Ia menolak lamaran kedua pria tersebut karena keduanya menyindir status sosial dan kualitas Elizabeth yang dipandang kurang mumpuni bagi publik sehingga menurunkan harga dirinya sebagai seorang Bennet dan seorang Elizabeth Bennet.

Sumber : Studio Canal / Working Title Films
Meskipun pada akhirnya ia tetap menikahi Mr. Darcy — tentu setelah surat cinta, sebuah kabar buruk, resolusi konflik, dan character arc redemption pada Mr. Darcy — Elizabeth sukses menjadi wanita yang diam-diam membelot dari tatanan sosial patriarkis tanpa benar-benar merusak tatanan sosial. Karakter Elizabeth memang bukan bertujuan merusak sistem sosial era Regency, tetapi mengenalkan sebuah ideologi baru bagi wanita. Elizabeth Bennet bukan heroine yang mempunyai influence besar di struktur sosial sehingga tidak punya sumber daya untuk mengubah sebuah konstruksi sosial yang sudah mendarah-daging. Jadi, Elizabeth melakukan hal yang paling simpel namun sering diremehkan: memilih untuk menikah karena dirinya sendiri — bukan dorongan sosial.

Sumber : Studio Canal / Working Title Films
Film Pride and Prejudice bisa menjadi refleksi kilas balik terhadap rasisme sistemik yang masih terjadi di lapisan masyarakat seluruh dunia. Perempuan, sampai saat ini, masih mengalami ketidaksetaraan gender. Begitupula terhadap melekatnya sebuah persepsi sosial bahwa perempuan harus menyandang titel istri pada umur tertentu — jika melebihi umur tersebut, maka perempuan akan dicap berbagai titel merendahkan dengan kata ‘tua’ di suku kata selanjutnya. Pada akhirnya, menikah atau tidak menikah merupakan pilihan sah setiap individu. Jane Austen setuju. Elizabeth Bennet setuju. Lagipula persepsi sosial tidak seharusnya mempengaruhi pilihan untuk mencintai seseorang. Adapun mengutip dari dialog Pride and Prejudice:
“What are men to rocks and mountains?”
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 17 Juni 2021