Oleh Rudra Maitri, Divisi Konten Kamisinema
Dalam film, pembuka dan penutup sangatlah krusial. Pembuka mendasari sisa durasi yang mengikuti, sementara penutup memutuskan apa yang film tersebut akan tinggalkan untuk penonton. Jajaran film yang terkenal karena ending baiknya tahu persis porsi dan bumbu yang pas bagi penonton. Kadang tidak perlu banyak-banyak, kadang sampai gosong, kadang juga disajikan mentah-mentah. Namun, tampaknya dari jajaran film tersebut Shiva Baby masih jarang tersebut dalam radar diskusi. Di sinilah penulis memberikan analisis sekaligus pujaan yang sudah seharusnya Shiva Baby dapatkan. Oh iya, SPOILER ALERT, duh.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
TENTANG SHIVA BABY
Mirip kasusnya seperti Whiplash (2014), Shiva Baby bermula dari short film kemudian mendapatkan cukup hype untuk mendapatkan budget fitur panjang. Sejak tahun lalu, Shiva Baby telah turut berkompetisi sana sini, termasuk mendapatkan seleksi TIFF dan SXSW, mengoleksi reputasi baik. Tetapi, tidak hingga April 2021 film ini turun ke media streaming.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
Film drama comedy besutan sutradara berumur 25 tahun, Emma Seligman, ini bertemakan tema yang tak ada habisnya dipuja oleh hipster-hipster masa kini: yak, benar. Coming of age. Shiva Baby menceritakan Danielle, seorang mahasiswi di tahun-tahun akhirnya yang belum memiliki strategi menjanjikan untuk kehidupan setelah lulusnya. Di satu hari, Danielle harus menghadiri sebuah upacara pemakaman saudaranya di mana keluarga besar dan orang-orang terdekatnya hadir. Tipikal acara pertemuan keluarga: Basa-basi “lagi sibuk apa?” tiada habisnya menghujani semua orang termasuk Danielle. Masalahnya, Danielle tidak memiliki jawaban cantik, jawaban yang tidak membuat dirinya terpandang rendah.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
KONFLIK CERITA
Banyak yang membandingkan film ini dengan Uncut Gems (2019) karena suasana stress level klaustrofobiknya. Film ini adalah salah satu dari banyak yang membatasi ruang, dalam durasi 77 menitnya hanya bertempatkan di satu lokasi. Lokasi tersebut tak bisa lebih pas lagi untuk mengangkat konflik ini: acara kumpul keluarga. Emma Seligman sadar bahwa okupasi ini selalu menjadi rawan kesempatan interogasi bagi para tetua, maka ia manfaatkanlah sebagai medan perang Danielle.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
Memang mudah terbayang bagaimana film akan berjalan: Danielle akan terus ditodongi pertanyaan-pertanyaan ini hingga ia tak mampu lagi menahannya. Tapi, kekuatan film ini hinggap di keakuratannya dan kedetailannya. Secara umum, orang-orang tua yang selalu menjadi tengokan bagi yang muda. Tapi, perilaku mereka di dunia nyata selalu membuat keberhakan status tersebut dipertanyakan. Di sini, Emma secara ekslusif mengarahkan kita melihat dari sudut pandang ketiga layak sebuah ilustrasi sehingga secara jelas—bisa ketuk palu–perilaku orang-orang tua tersebut salah. Dari Ayah Danielle yang selalu meyakinkan para tamu bahwa Danielle akan memiliki pencapaian yang menurut pribadinya ideal, mantan kekasih Danielle (Maya) yang hadir menjadi favorit para tamu karena berprestasi—membuat Danielle semakin insecure, orang-orang tua yang selalu terlihat jelas pura-pura bangga dengan pencapaian tidak jelas Danielle, menanyakan pencapaiannya bagai menagih hutang, belum ditambah subplot-subplot seperti sugar daddy Danielle yang hadir bersama istrinya, masalah percintaan Danielle dengan Maya, semua berdatangan dari semua penjuru, memojokkan Danielle di acara yang tak kalah juga himpit-himptannya.
Tidak sepenuhnya eksternal, kesalahan juga banyak muncul dari Danielle. Dari kekanak-kanakannya karena banyak alasan, kebergantungannya kepada sang sugar daddy—malas usaha, dan kepeduliannya terhadap pandangan orang lain terhadapnya.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
ENDING (SPOILER)
Jalan keluar tak selalu berarti semua bahagia dan sadar. Di Shiva Baby sequence ending tanpa disangka mengambil jalan “Lho, lho… apa lagi nih?”. Setelah mengalami breakdown, keluarga Danielle berkeputusan untuk pulang. Tanpa disangka, ayah Danielle masih menunjukkan sifat yang sama sejak awal film—persuasif tanpa alasan dan dalam hal kecil. Dalam kasus ini, Danielle memiliki mobil besar dan Ayah Danielle memaksa seorang lansia dari keluarga, Maya (mantan Danielle), sugar daddy Danielle, istrinya (yang telah mengungkap perselingkuhan Danielle dengan suaminya), bersama bayi mereka untuk pulang bersama keluarga Danielle. Ramainya mobil membuat duduk saja sangat sulit, sesaknya bisa dirasakan. Dalam keramaian tersebut, Danielle duduk bersebalahan bersama Maya (yang kini sudah balikan). Ketika mobil hendak jalan, perlahan mantannya menggandeng erat tangan Danielle. Mereka berdua tersenyum. Film berakhir.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
Walau mungkin cukup jelas pesannya, tetaplah tidak membuat ending ini kurang hebat. Secara bijak, film ini tak mengambil jalan “semua karakter sadar dan meminta maaf”. Ini dunia nyata, bukan cerita nabi di mana semua orang langsung berubah dalam sekali teguran. Dalam kasus ini, dihimpitnya Danielle dengan karakter-karakter yang memenuhi pikirannya—yang kita sebagai penonton kira Danielle sudah berhasil memutus hubungan secara total ternyata hadir kembali layak Doctor Doom bangkit dari kematian. Dan mereka tak hanya kembali, terkuncinya Danielle di mobil yang sesak itu mengimplikasi tiadanya jalan keluar baginya. Ketidak-berubahan di situasi sekitar Danielle ini dikonfirmasi dengan plot tanaman Ayah Danielle di mana ia masih saja kehilangan handphone-nya seperti di sepanjang film. Lalu, Maya, salah satu dari hanya dua karakter yang mengerti perilaku terbaik untuk diberikan kepada Danielle setelah breakdown-nya, perlahan memegang tangannya. Simbol ini menunjukkan bahwa Maya dan Danielle kini telah berkacamata satu. Excitement mereka akan perjalanan hidup baru yang dalam hitungan menit segera dimulai membuat lupa akan kurangnya oksigen di situ. Breakdown Danielle telah mematangkan Danielle untuk siap mental untuk hidup bersama keusikan orang-orang sekitarnya. Tiadanya jalan keluar bukan menjadi halangan lagi baginya, dan genggaman tangan itu menjadi selebrasi menuju kemenangan sekaligus bersiap-siap untuk awal yang baru, menyambut detik-detik sebelum roller coaster meluncur.

Sumber : Neon Heart Productions / Utopia (2020)
Ending ini sempurna karena tidak ada pelarian yang benar-benar meliberasikan. Semeriah apapun pesta di hari minggu, senin akan selalu mengikuti. Dalam dunia nyata, sebagian besar dari kita tumbuh besar dengan orang-orang yang itu-itu aja. Mungkin memang mereka jauh, tetapi tidak pergi. Kita tidak bisa mengekspektasi mereka berubah untuk kita. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah berubah untuk mereka. Untuk lebih ekspresifnya, segera tutup post ini dan mainkan film ini.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 30 Mei 2021