Oleh Putu Bayuwestra, Divisi Konten Kamisinema

[SPOILER ALERT] adalah sebuah ungkapan yang tidak asing bagi para penonton film. Seakan tidak ada yang benar-benar salah, spoiler menjadi budaya tersendiri dalam pengalaman menonton film. Mungkin kita masih ingat bagaimana riuhnya fans Marvel dalam dalam keadaan menutup mata dan kuping ketika perilisan Avengers : Infinity War dan Avengers : Endgame. Bahkan film sekaliber Christofer Nolan juga beberapa kali kena imbasnya. Lalu, mengapa sebuah hal kecil berupa spoiler dapat menjadi begitu hectic-nya?

Sumber : Marvel Studios via youtube.com (2019)

Seperti yang kita ketahui, film adalah sebuah seni eksklusif pada awal kehadirannya. Perkembangan teknologi membuat film kemudian lebih mudah dijangkau oleh khalayak ramai. Film menjadi salah satu Budaya Pop (Pop-Culture) dengan pembawaan visual dan naratif yang disukai oleh banyak orang. Film yang baik, mengutip dari perkataan Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail adalah sebuah seni “Make Believe ” yang membuat orang percaya akan sesuatu; menghadirkan sebuah kenyataan yang baru. Film membuat mereka yang menonton serasa ikut andil menjadi bagian di dalamnya. Ialah suatu pengalaman yang ‘sakral’ ketika seseorang mampu menonton film secara utuh.

Keutuhan dalam menonton film dapat terjadi ketika seorang mampu menyaksikan; menikmati jalinan visual dan naratif yang disajikan dari awal hingga akhir. Keutuhan tersebut kemudian dapat terganggu ketika seseorang memperoleh bocoran poin penting dari film yang akan ditonton. Kita menyebutnya spoiler. Spoiler bukanlah hal yang baru. Hal ini pertama kali digunakan dalam majalah “National Lampoon ” edisi April 1971, ketika seorang penulis artikel Doug Kenney menggunakan judul “spoilers” untuk mengungkapkan akhir dari film-film dan buku-buku yang terkenal kala itu. Dengan embel-embel khasnya berupa “Save Your Time and Money!”. Budaya spoiler terus berkembang seakan tidak ada hal yang benar-benar salah dari tindakan tersebut.

Sumber : GMM Thai Hub via Youtube.com (2013)

Meninjau spoiler sebagai sebuah proposi, membuat kita harus mampu mengenali spoiler menurut jenisnya. Saya akan membaginya berdasarkan jenis komunikasi dalam Ilmu Komunikasi; yang terdiri dari, non-verbal, verbal, tertulis, dan visual. Lalu, manakah dari bentuk ini yang “salah”? dan mana yang “diperbolehkan”. Non-verbal adalah bentuk spoiler yang disampaikan secara tidak langsung melalui gestur dan mimik wajah. Tidak ada yang salah dari hal ini. Seseorang yang merasa tidak puas dengan film, wajar mengungkapkan gestur dan mimik kecewa sebagai bentuk ekspresi dan respon dari apa yang ditontonnya. Terkadang di bioskop, kita bisa melihat itu pada penonton yang mendapat giliran menonton sebelum kita.

Verbal adalah spoiler yang disampaikan secara langsung/lisan; biasanya terjadi dalam sebuah diskusi antara yang sudah menonton dan yang belum; yang mana dalam hal ini tidak salah, karena adanya keterbukaan antara yang menyampaikan materi dan yang menerima. Namun, sering kali kegiatan ini dilakukan dalam rangka menggoda mereka yang menanti-nantikan suatu film untuk ditonton. Hal ini cukup mengganggu karena jika ditinjau dari proses kreatif penciptaan naratif; penulis/sutradara ialah dengan sengaja menciptakan disparitas pengetahuan yang membuat suatu naratif memiliki efek tertentu, baik ketegangan maupun kejutan. Bocoran informasi secara langsung/tidak langsung akan melemahkan, bahkan menggagalkan efek yang telah dibangun tersebut.

Sumber : New Line Cinema via youtube.com (1995)

Selanjutnya, untuk spoiler tertulis, salah atau tidaknya dapat ditinjau dari tujuan spoiler itu dibagikan. Ketika spoiler itu dibagikan dalam rangka ketidakmauan seseorang untuk menyaksikan film tersebut; agak sangsi, tapi dapat dikatakan bahwa hal ini salah. Penyampaian secara gamblang naratif film, adalah sebuah bentuk pendiskreditan terhadap para kreator; yang akan menimbulkan kerugian dalam bentuk materi dan ide. Sebelumnya dikatakan agak sangsi, sebab dalam UU No. 28 Tahun 2014, Pasal 41, spoiler bisa dikatakan termasuk ke dalam ide atau konsep yang walau telah diungkapkan, tetap tidak dilindungi Hak Cipta. Sementara, hal ini tidak salah saat tulisan spoiler digunakan untuk riset, kritik atau mengkaji sebuah film. Riset, kritik, dan kajian dapat dikatakan sebagai upaya pengembangan terhadap suatu produk dengan proses dibaliknya. Penggunaan spoiler untuk tujuan pengembangan dapat memberikan improvement jangka panjang bagi karya para sineas.

Sumber : Orion-Nova Productions via youtube.com (1957)

Lalu terakhir, ada spoiler yang disampaikan secara visual. Spoiler ini disampaikan dengan merekam layar bioskop, atau platform OTT; atau bisa juga dengan “screen recording” film tersebut. Hal ini sangat salah, sebab melanggar UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU No. 11 Tahun 2008, tentang ITE. Perekaman gambar berarti pencurian terhadap hasil kreator. Namun, terjadi pengecualian untuk gambar yang dibagikan secara resmi melalui still foto atau teaser/trailer film. Spoiler jenis ini, beberapa waktu terakhir juga berkembang ke dalam bentuk konten yang menceritakan ulang film melalui platform Tiktok, Instagram, ataupun Youtube. Seseorang, entah hanya narasi atau menampilkan diri “yang menunjuk film yang diputar di atas kepalanya” akan menceritakan seluruh plot dari film tersebut. Hal ini juga salah, namun akan ia mendapat pembahasan berbeda di lain tulisan.

Sumber : Paramount Pictures via youtube.com (2014)

Terlepas dari benar dan salahnya suatu spoiler. Kita mungkin masih bertanya-tanya mengapa ada orang yang suka, dan yang tidak suka terhadap spoiler? Hal ini kemudian dijelaskan melalui riset yang disampaikan dalam sebuah jurnal Media Psikologi; yang mana hal ini dipengaruhi oleh 2 faktor. Faktor tersebut adalah “Need for Cognition ” dan “Need for Affect ”. Riset ini timbul berdasarkan penyimpulan bahwa ketika seseorang mengikuti sebuah film, buku, atau drama mereka akan memperoleh informasi dan perasaan tegang. Need for Cognition berkaitan dengan informasi yang diperoleh. Orang dengan Need for Cognition tinggi cenderung akan menghindari spoiler, karena tipe kepribadian ini lebih suka menganalisis sesuatu. Spoiler akan membuat informasi yang didapat terkesan terlalu mudah. Begitu juga sebaliknya.

Sumber : Strong Heart Production via youtube.com (1991)

Lalu, ada Need for Affect yang berkaitan dengan perasaan tegang yang diperoleh. Orang dengan Need for Affect tinggi cenderung juga akan menghindari spoiler, karena tipe kepribadian ini menyukai ketegangan dari menonton film. Spoiler akan membuat perasaan tegang yang dicari oleh tipe orang ini berkurang. Sementara untuk Need for Affect rendah cenderung mencari spoiler untuk mengurangi ketegangan bahkan kecemasan dalam menonton sebuah film. Hal ini pada dasarnya perlu diketahui oleh tiap orang untuk dapat menyesuaikan kebutuhan para penonton. Dapat dikatakan, spoiler adalah hal kecil yang memiliki dua sisi  efek yang bersifat simultan masif. Pola pikir yang bijak diperlukan dalam menyampaikan dan menggunakannya.

Sumber : Marvel Studios / Sony Pictures via youtube.com (2019)

Referensi :

  • wikipedia.org
  • ilmukomunikasi.uma.ac.id
  • UU No. 28 Tahun 2014, tentang Hak Cipta
  • UU No. 11 Tahun 2008, tentang ITE
  • Benjamin K. Johnson & Judith E. Rosenbaum (2018) (Don’t) Tell Me How It Ends: Spoilers, Enjoyment, and Involvement in Television and Film, Media Psychology, 21:4, 582-612, DOI: 10.1080/15213269.2017.1338964
  • Buku Memahami Film Edisi 2, oleh Himawan Pratista

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 26 Juli 2021