Oleh Fellina Surgawi, Divisi Konten Kamisinema

Mundur selangkah untuk mengambil ribuan langkah maju cara ini dilakukan para filmmaker di situasi seperti sekarang ini, virus bukan penghalang mereka untuk menghasilkan karya-karya yang menakjubkan mungkin banyak dari mereka mengurungkan niat untuk penayangan lebih awal, sekarang situasi kian terkendali penayanganpun mulai diperbolehkan dan terbukti mereka bisa menembus jajaran nominasi Best Picture. Kamisinema mengkompilasi resensi dan ulasan film-film yang masuk dalam nominasi Best Picture Oscar 2021.

Minari

Ditulis oleh Fellina Surgawi 

Sumber : Plan B Entertainment

Film yang disutradarai oleh Lee Isaac Chung, berlatar waktu era 1980 berkisah tentang keluarga asal korea selatan yang pindah ke Arkansas Amerika Serikat. Meraih enam nominasi penghargaan Oscar ke 93 pencapaian ini mengembalikan ingatan pada suksesnya film korea Parasite sebelumnya, bahkan Minari dinobatkan sebagai film penerus kesuksesan. Tak hanya dari visual yang ciamik Minari juga unggul dalam kualitas penceritaan, film ini secara gamblang menceritakan bagaimana imigran bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di Amerika yang masih konservatif dalam hal sosial dan keagamaan.  selain itu penggunaan skoring dengan piano yang menarik, ditampilkan pada saat hal yang menguras tenaga jadi tujuannya bukan untuk menambah kesan semangat tapi lebih memberikan kesan iba terhadap semua pengorbanan yang tokoh lakukan. Jadi sediakan tisu sebelum menonton.

Promising Young Woman

Ditulis oleh Mochammed Fadliawan

Sumber : youtube.com/focus features

Dibuka dengan musik pop kekinian dan tone yang cenderung colorfull tidak menjadikan film ini memiliki cerita yang bahagia dan penuh tawa. Promising Young Woman diangkat menjadi sebuah film drama thriller yang mengangkat isu pelecehan seksual terhadap perempuan.  Berkisah tentang pembalasan dendam Cassie kepada para pria hidung belang sebagai bukti besarnya rasa persahabatannya kepada Nina, sahabatnya yang harus mengakhiri hidup karena depresi setelah menjadi korban pelecehan seksual. Film ini mampu membuat penonton secara tidak langsung ikut mendukung segala aksi yang dilakukan oleh Cassie. Meskipun tidak benar secara moral, tapi penonton dapat dengan tegas ‘mengatakan’ bahwa aksi yang dilakukan Cassie adalah benar dan sudah sepantasnya dilakukan.

Sound of Metal

Ditulis oleh Rudra Maitri

Sumber : Caviar / Ward Four

Kehilangan pendengarannya di tengah-tengah tur, Ruben, pemain drum dalam sebuah duo, memosisikan penonton untuk turut memikirkan nasibnya. Motivasi yang dituju Ruben, mendapatkan pendengarannya kembali, tetap berkesan tak ada harapan karena kecelakaan tak hanya menabraknya tapi juga tiada hentinya menghantui. Menangnya film ini tidak hanya dari tentang apanya atau mungkin, yang nyentrik, permainan sound-nya sebagai simulasi tuli. Kesabaran treatment berpengaruh besar. Ketiadaan ilustrasi musik memaksa penonton untuk melihat kondisi seutuhnya, tidak memberi jalan keluar. Tetapi di akhir film, membawa materi acceptance, penonton diajarkan untuk mengubah konotasi kesumukkan dalam keheningan dari sesuatu yang mengancam menjadi menguntungkan. Terlebih, performa nihil kesalahan Riz Ahmed. Riz me-reka perilaku denial dengan baik. Untuk menunjukkan ketidakterimaannya, tidak pernah ada penolakan yang agresif, selalu menerima dengan wajah jengkel. Bersama aspek lain, kerealistisan akting Riz menghidupkan kisah fiksi buatan tangan ini.

Judas and The Black Messiah

Ditulis oleh Benny Susanto

Sumber : Dok. Bron Creative via IMDb

Mengangkat isu rasisme pada kaum kulit hitam tampak segar dan berbeda di film Judas and The Black Messiah. Disajikan dengan jelas dan emosional bagaimana perjuangan ketua partai Black Panther Fred Hampton, beserta anggotanya dalam memperjuangkan secerca harapan mereka untuk hidup. Berbeda dengan rangkaian film bertema rasisme lainnya, disini kita diperlihatkan sebuah persepsi baru dari sosok Bill O’Neal, yang tidak muluk-muluk motivasinya sepanjang film, yaitu untuk bertahan hidup. Motivasi kuat, diiringi pertentangan emosional dari Bill O’Neal, membawa kita pada kenyataan pahit dari kubuh kaum kulit hitam di masa itu; ingin memperjuangkan kehidupan generasi selanjutnya atau kehidupan dirinya di esok hari?

The Father

Ditulis oleh Intan Bintang Pratiwi

Sumber : F comme Film / Trademark Films

Termasuk dalam nominasi Best Picture Picture Academy Awards 2021, The Father merupakan film bergenre drama yang menghadirkan hubungan antara seorang anak dan ayahnya yang mengidap Alzheimer. Berbeda dari film-film yang mengangkat kisah pengidap Alzheimer lainnya seperti Relic, The Father memberikan sesuatu yang berbeda dengan menempatkan kita langsung pada sudut penderita dementia. Kita akan ditempatkan bersama berbagai kebingungan yang dialami Anthony. Kecurigaanyna pada hal-hal kecil, kenyataan yang terasa berubah-ubah, dan berbagai pikiran yang perlahan mulai terpecah-pecah di dalam kepalanya. 

Film ini secara dramatis membawa kita kedalam benak pengidap dementia, yang realitanya tidak dapat disembuhkan. Mengobati pasien dengan cara membawa mereka kembali mengingat realita adalah sebuah kemustahilan, sedangkan lambat namun pasti, ingatan-ingatan mereka direnggut paksa dari tempatnya. 

Mank

Ditulis oleh : Putu Bayuwestra

Sumber : Netflix International Pictures

Setelah “The Social Network” pada tahun 2010, David Fincher kembali lagi dengan sebuah film fiksi bergenre biografi. Film “Mank” bercerita tentang “Citizen Kane” yang dianggap sebagai film terbaik sepanjang masa. Alih-alih menceritakan Orson Welles sebagai seorang yang menyutradarai dan menjadi pemeran utama dari “Citizen Kane”. Film ini berpusat pada perjalanan penulis naskah “Citizen Kane” Herman J Mankiewicz (Gary Oldman) yang memanggil dirinya dengan sebutan Mank. Seperti film-film Fincher sebelumnya, ia sangat mahir dalam melakukan riset dan menyusunnya secara apik dalam sebuah plot. Secara desain produksi, baik visual, suara, maupun editing ia menggunakan konsep sesuai tahun rilis film tersebut. Walau, hampir sama seperti “The Social Network”, karakterisasi tokoh utamanya merupakan hasil konklusi subjektif dari sang sutradara, yang dibuat untuk memudahkan penonton untuk mengenal si tokoh.

Nomadland

Ditulis oleh Indigo Gabriel Zulkarnain

Frances McDormand in the film NOMADLAND. Photo Courtesy of Searchlight Pictures. © 2020 20th Century Studios All Rights Reserved

Sumber : Searchlight Pictures

Nomadland bercerita seorang nomads bernama Fern dalam misinya menerima kekalahan dalam hidup, dan mencari pembebasan di perjalanannya dalam sebuah mobil yang ia transformasikan menjadi sebuah tempat tinggal. Nomadland adalah film tentang manusia. Menjadi manusia dan bertindak sebagai manusia. Bagaimana merasakan, meresapi, dan mencari kehidupan. Tentang kehilangan, menemukan, dan mengikhlaskan. Segala jenis emosi tercapture dengan baik oleh Frances McDormand sebagai Fern. Segala alat storytelling dalam film digunakan dengan konstruksi konsep yang ciamik. Plot bergerak seperti manusia, Editing yang bernafas seperti manusia, dan Sinematografi yang bertindak layaknya manusia. Nomadland – secara harfiah atau tidak dapat – dirasakan hingga ke pelupuk bulu mata.

Pulang adalah tempat ternyaman, Nomadland rasanya memberikan rumah bagi para audience. Nomadland akan menjadi definitive film tahun 2020, juga di Oscar 2021 nanti. Locked for Best Picture

The Trial of the Chicago 7

Ditulis oleh Gabriella Jeanette

Sumber : Paramount Pictures / Netflix

Semakin ke belakang semakin membuat mata terpelalang, mungkin adalah kalimat yang dapat mendefinisikan film ini. Film yang berangkat dari kerusuhan politik di tahun 68 ini berhasil menampilkan fakta bahkan konspirasi politik dari negeri Paman Sam. Alur cerita yang sebenarnya sederhana, hanya seputar persidangan, namun ditampilkan dengan sangat baik dan lebih kompleks daripada yang disangka. Walaupun beberapa menit di awal terkesan membosankan, namun semakin ke akhir semakin banyak sekali hal takjub yang ditampilkan. Kesan haru yang disampaikan sangat tepat melekat di hati.

Tulisan telah diunggah di Instagram pada 25 April