Oleh Putu Bayuwestra, Divisi Konten Kamisinema
Situasi carut marut masih berlanjut. Sebagian memilih tetap diam, sebagian memilih bergerak. Ada sebuah gerbang akhir yang harus dilewati, sebagai bentuk komitmen karena telah memilih jalan dari sebuah garis permulaan. Dalam usaha yang tidak mudah, gerbang tersebut akhirnya berhasil dilalui. Karya-karya film fiksi, film dokumenter, dan program televisi kini telah tersaji sebagai wujud penempaan ilmu dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Prodi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta. Kepada para sineas dan segenap kru yang bekerja, terima kasih karena sudah berkarya dan tetap berproses walau dalam situasi yang sulit. Semoga kakak-kakak bisa sukses dalam fase baru kehidupan dan tetap mampu menghasilkan karya yang membanggakan diri sendiri, almamater, dan Negara Indonesia. Berikut ini adalah review tugas akhir prodi Film dan Televisi 2020 / 2021, Periode 2, dari kami divisi konten Kamisinema.
Rumah Paku
Diulas oleh Rudra Maitri

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Rumah Paku memperjelas film sebagai media audiovisual. Kita diperingatkan bahwa eksplorasi-eksplorasi filmmaking yang lebih jauh masih menunggu karena film ini memanfaatkan audio dan visual hanya sedalam makna harfiah keduanya. Tanpa dialog, Rumah Paku efektif mereplika situasi terpojok dan kesendirian. Karakter utama, pria berusia 40—50-an, kesehariannya dipenuhi kesunyian. Tetapi, semakin hari semakin sengasara karena ketidakmampuannya membayar tagihan-tagihan sehingga kesunyian tersebut diberi makna baru: keputusasaan. Karakter dibunuh pelan-pelan oleh kolaborasi apik antardepartemen. Banyak momen-momen menarik/kreatif dari permainan efek suara, tata artistik, sinematografi, atau lighting yang dengan tidak terlalu ekstrem membangun suasana yang memastikan karakter utama bersama penonton tidak boleh tertidur tenang.
Tekad Ku Ikhlas
Diulas oleh Moch. Fadliawan

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Menceritakan sosok Yanto yang menunggu istrinya pulang sebagai seorang TKW, namun Yanto harus menerima kenyataan bahwa istrinya pulang dengan seorang bayi tanpa ayah yang sah.
Penyutradaraan yang baik membuat film pendek berjudul ‘Tekad Ku Ikhlas’ ini mampu mengajak penonton turut merasakan kesepian serta kesakitan hati Yanto yang divisualkan secara apik. Tutur cerita yang tidak banyak dialog serta tak banyak aksi pada tokoh Yanto tetap membuat konflik batin yang terjadi pada diri Yanto tervisualkan dengan baik karena didukung oleh pegadeganan serta kemampuan akting yang mumpuni.
Kisah Para Pencari
Diulas oleh Lisa Nurholiza

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Film yang mengangkat latar belakang cerita kasus perkosaan ini dengan sangat cerdas menggabungkan beberapa isu dalam sebuah benang merah yang sedang ramai digodok belakangan ini, RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual). Keberpihakan filmmaker terlihat jelas dengan ditampilkannya sebuah adegan traumatis yang korban alami. Keresahan filmmaker akan kebimbangan hukuman untuk pelaku juga dituangkan dalam adegan pembuka lewat dialog pelaku dan penguasa. Mood yang dibangun sebagai pendukung plot dan karakterisasi tokoh berhasil divisualisasikan lewat cahaya yang kontras dan pakaian-pakaian monokrom yang dipakai. Keterlibatan banyak tokoh dan cerita dari tiap tokoh mengerucut pada sebuah hal yang sedang mereka lakukan, pencarian oleh para pencari.
Mukhlis
Diulas oleh Benny D. Susanto

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Menjadi nilai utama bagaimana Erviuanto Nugroho berhasil menampilkan pergerakan kamera yang memberikan “nyawa” pada tiap penceritaan dalam film Mukhlis. Menyajikan sudut pandang kehidupan pesantren, film Mukhlis menyajikan konflik yang padat mengenai pertentangan diri seorang yang hidup dalam lingkungan agamis, serta hadirnya plot twist yang menyiratkan realitas kehidupan. Menghadirkan sekuens pertarungan yang cukup panjang, namun menjadi wadah tempat Erviuanto mencurahkan ide kreatif dalam pengambilan gambar didalamnya.
Zona Merah
Diulas oleh Gabriella Jeanette K.

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Merupakan sebuah film tugas akhir karya Akmala Fakhri yang masuk dalam kategori film yang divisualisasikan dalam bentuk animasi. Karya ini menampilkan animasi yang bukan hanya sekedar ‘gambar bergerak’, melainkan pendetailan yang cukup menawan, ditambah jalan cerita yang cukup menegangkan sekaligus dapat dihubungkan dengan keadaan dunia saat ini, membuat karya film ini sangat menarik untuk ditonton. Film ini, merupakan film bertemakan zombie, cukup terbilang mainstream untuk saat ini. Tentu saja ide untuk menjadikan sesuatu menjadi hal yang berbeda untuk tema yang terbilang mainstream akan menjadi hal yang cerdas, tentu film ini lah jawabannya.
Tugas Akhir
Diulas oleh Indigo Gabriel Zulkarnain

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
“Tugas Akhir” menjadi film yang berhasil mendepiksikan pertanyaan moral antara moralitas dan mortalitas. Karakter Mustafa digambarkan sebagai pria yang ingin setengah mati untuk mati. Perbedaan realita dan alam baka dibuat se kabur mungkin, memungkinkan eksplorasi menarik bagi karakter, hubungannya dengan masa lalu, juga dunia kejam yang ia hidupi. Kritik sosial mengenai privelese kematian antara orang kaya dan miskin diselipkan secara samar-samar dan mengejutkan. Setiap frame dalam film dihiasi dengan ratusan detil tekstur yang mengemphasis kejujuran dunia cerita. Penggunaan natural lighting berhasil membumikan film pada kenyataan. Kehidupan dan kematian menjadi tanda tanya besar bagi manusia, Tugas Akhir berhasil memberi kontribusi dalam upaya menjawab pertanyaan itu.
Tubuhku Otoritasku
Diulas oleh Gabriella Jeanette K.

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Film dokumenter ini memusatkan kisah seorang wanita bernama Mita, salah seorang feminis dari kota Yogyakarta. Pengalaman masa lalu membuatnya memiliki keresahan untuk mendukung gerakan mendukung sesama wanita tanpa menilai dan merendahkan fisik antar lainnya. Usahanya menyuarakan segala kampanye untuk memerangi konstruksi sosial tersebut layak menjadi suatu inspirasi bagi setiap penonton. Karya film dokumenter yang dekat dengan permasalahan dan isu di masa sekarang membuat penonton mendapatkan suatu ‘isi’ setelah selesai menontonnya.
A Story of Inna
Diulas oleh Suci Prasasti

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
A Story of Inna karya Soca Ramadhani tidak hanya bercerita tentang pengalaman pribadi dan sudut pandang seorang Inna Hudaya mengenai hak dan otoritas tubuh perempuan karena melalui sudut pandangnya itu sebuah urgensi isu turut dibawakan dengan saksama. Film ini mewakili suara banyak perempuan diluar sana yang tidak bisa mendapatkan hak dan kekuasan penuh atas tubuh mereka, entah karena hukum yang berlaku maupun norma masyarakat disekitarnya. Tidak hanya menyajikan permasalahan yang tengah terjadi, film ini juga berperan sebagai teman bagi banyak perempuan yang mengalami hal serupa bahkan menawarkan solusi serta pencerahan yang berlaku untuk semua gender, bahwa layaknya laki-laki perempuan juga punya hak untuk memilih. Akhir kata A Story of Inna adalah sebuah kisah dari kita semua. Komplit dan Sempurna.
Palemahan
Diulas oleh Putu Bayuwestra

Banyak yang berusaha mengkritisi moral kehidupan adat di suatu daerah berdasarkan apa yang dilihatnya di media sosial. Film “Palemahan” menjadi sebuah usaha untuk merangkul fakta-fakta yang dekat namun jarang dijamah orang-orang. Junita Dwi Puspita Sari bersama filmnya menyajikan positivitas yang apa adanya tentang sudut pandang terhadap salah satu bentuk adat-religi masyarakat Bali. Informasi dipaparkan secara bertahap dengan produksi yang tepat guna, mempermudah pemahaman, dari latar belakang hingga konklusi.
Personal POV : Penulis sebagai bagian dari masyarakat Hindu-Bali sangat mengapresiasi film ini. Informasi yang disampaikan, menurut saya sudah sesuai dengan apa yang diajarkan dan dipahami pada saya oleh lingkungan.
The Doctor without White Suit
Diulas oleh Indigo Gabriel Zulkarnain

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
The Doctor without White Suit bercerita banyak dan ekslusif tentang posko rumah sakit terapung yang dilengkapi dengan ruang operasi, Rumah Sakit Ksatria Airlangga. Wawancara yang disajikan bercerita dengan santai dan serius di waktu yang bersamaan. Bangunan struktur cerita dari hasil wawancara dirangkai apik dan telaten. The Doctor without the White Suit juga menyoroti para masyarakat yang terbantu oleh narasumber. Sorotan ini membuka ruang interpretasi film lebih luas. Ketimpangan ekonomi masyarakat di kota-kota dan pulau-pulau kecil terhadap masyarakat metropolitan seakan ditebar secara perlahan, mengajak audience memformulasikan perspektif barunya masing-masing. Gaya film The Doctor without White Suit terasa seperti mengobrol bersama paman keren mu, tentang hambatan dan prestasi menarik kehidupannya.
Belasa Kepampang
Diulas oleh Fellina Surgawi

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Pada film Belasa Kepampang ini memberikan kita pengetahuan baru mengenai kebudayaan Lampung khususnya bagi orang-orang yang bukan terlahir dari orang Lampung, meskipun begitu tidak ada salahnya kita sebagai orang indonesia mengetahui seluk beluk sejarah kebudayaan lain karena ini semua juga bagian dari orang Indonesia. Tentu film ini bermakna karena banyak dari generasi kita saat ini tidak mengetahui asal usul nenek moyang terdahulu, karenanya ini menjadi jendela baru membuka pandangan pengetahuan kita mengenai nenek moyang orang Lampung.
Apo Lagaan
Diulas oleh Putu Bayuwestra

“Apo Lagaan” karya Abdiannur membawa film dokumenter yang “mendokumentasikan” ke ranah yang sudah sangat profesional. Desain produksi yang matang ditambah dengan penyampaian yang mudah dimengerti membuat penulis merasa tidak bosan menontonnya hingga akhir. Hal yang pasti menarik perhatian ketika menonton “Apo Lagaan” adalah pengambilan gambar yang dinamis dan berani. Sejenak ketika film dimulai, penulis langsung terpukau dengan extreme long-shot yang diambil dari ketinggian; berlanjut dengan gerakan para tokoh, momen, dan rupa budaya yang terabadikan begitu baik. “Apo Lagaan” menjadi sebuah bentuk kepekaan terhadap pentingnya pemuktahiran informasi kondisi suku-suku dan eksistensinya yang masih bertahan di Indonesia.
Heritage of Humanity
Diulas oleh Fellina Surgawi

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Heritage of humanity termaksud juga film dokumenter yang membahas kekayaan kebudayaan Indonesia, pada film ini terfokus pada budaya jawa dalam melestarikan keris. Sangat penting bagi orang tua kita mewarisi kebudayaan ini agar tidak hilang begitu saja, keris merupaka senjata tradisyonal jawa digunakaan bersamaan dengan baju adat jawa. Film ini memberikan pemahaman bahwa keris merupakan kebudayaan, tidak ada sangkut pautnya dengan hal mistis jadi kita tidak perlu takut. Ini merupakan mahakarya nenek moyang kita sebagai orang Indonesia, semoga film seperti ini bertambah keberadaanya karena ini penting untuk meperbaiki pemahaman kita orang Indonesia yang cenderung salah menafsirkan.
Dangdut for You
Diulas oleh Rudra Maitri

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Selalu banyak cerita di balik permukaan, sedasar apapun terlihatnya. Dalam Dangdut For You, kita diajak berkenalan dengan dunia dangdutan bersama salah satu pemimpin band dangdut di Jawa Timur. Yang tampaknya sederhana, dangdutan memiliki keragaman di dalamnya pula. Spesifikasi-spesifikasi musik dangdut terdetailkan, misal perbedaan antara jaranan dan campursari, pakaian yang dikenakan para pemain, penyesuaian dalam tipe event, dan tantangan-tantangan yang dihadapi seperti persaingan antargrup atau menghadapi zaman modern. Tidak pelit dokumenter ini menghabiskan waktu untuk mendidik penonton terlebih dahulu karena pastinya, tak kenal maka tak sayang. Pemahaman terhadap dunia per-dangdutan ini mampu membuat penonton merasakan liku-liku yang dialami subjek pula.
Suara Sape
Diulas oleh Intan Bintang Pratiwi

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Film berformat dokumenter ini bercerita tentang alat musik Sape dari sudut pandang seorang pemain Sape bernama Amoris atau yang lebih dikenal dengan Uyau Moris. Tidak hanya menggeluti alat musik Sape sebagai hiburan belaka, Uyau Moris berusaha keras untuk mengenalkan Sape ke mata dunia. Salah satunya yaitu dengan membawakan lagu-lagu modern dengan alat musik Sape agar lebih mudah diterima kalangan muda. Film ini secara apik memetakan pemikiran seorang seniman musik tradisional yang tak kenal lelah dalam berkarya dan berinovasi agar budayanya dapat terus lestari dan dikenal oleh khalayak luas. Film ini juga semakin memukau karena diiringi oleh petikan musik Sape di sepanjang film.
Puntun Dah Tulak
Diulas oleh Moch. Fadliawan

Potret penjaga kapal tongkang batu-bara dikisahkan melalui film dokumenter ini. Mengapung berhari-hari dilaut bebas, meghalau para pencuri batu-bara, bahkan bersembunyi dari polisi laut rela dilakukan oleh para penjaga kapal tongkang ini. Mereka faham betul akan segala risiko, namun keadaanlah yang memaksa mereka untuk melakukan semua itu.
Pendekatan observasi diterapkan pada dokumenter ini guna menuturkan cerita. Penonton tidak diberikan banyak ceramah wawancara narasumber untuk memahami alur serta kejadian yang sedang berlangsung, namun dengan didukung editing yang serta pengambilan gambar yang baik, penonton dapat mencermati isi cerita berdasarkan visual yang diberikan.
Ilu Lepoq Jalan
Diulas oleh Intan Bintang Pratiwi

Film dokumentasi ini menggambarkan secara apik sebuah suku di Kalimantan yang hingga kini tetap lestari mempertahankan identitas sukunya. Tidak hanya berfokus pada unsur budayanya saja, film ini juga menggambarkan dengan jelas kekeluargaan dan kerukunan yang terjalin dalam suku tersebut. Menariknya , film ini juga sukses memetakan pola sejarah dan yang tak lekang oleh waktu dari berbagai perspektif para tokoh besar.
Kidspedia
Ditulis Oleh Benny D. Susanto

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
Hadir dengan target penonton yang lama ditinggal oleh pasar televisi Indonesia di dewasa ini, Kidspedia mampu menghidupkan kembali makna program televisi untuk anak-anak, yaitu menarik-kreatif-edukatif. Kidspedia mampu mengimplementasikan salah satu kegiatan keseharian anak-anak, dan dibagi menjadi empat segmen yang memiliki porsi menarik di tiap segmennya. sang kreator acara televisi, Sarah Banderas, juga berhasil memberikan ruang untuk mereka, pelaku usaha, individu maupun kelompok, yang bergerak dalam dunia anak untuk bisa tampil dan menyuarakan keberadaan mereka. Pada akhirnya, Kidspedia menjadi salah satu secercah harapan akan kualitas tontonan anak-anak yang edukatif, ditengah hiruk pikuk tontonan sensasional tak sesuai target usia.
Institut Serba Indie
Diulas oleh Putu Bayuwestra

Sumber : galeripandeng.isi.ac.id
“Institut Serba Indie” adalah sebuah dokumenter televisi tentang gerakan, komunitas, dan isu-isu sosial-budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada episode “Gerakan Penyelamat Hewan Peliharaan Terlantar”, Aghra Aghasa Adhityawarman menyampaikan keresahan dalam bentuk paparan informasi tentang hewan terlantar dan usaha penanggulangannya. Episode kali ini dibagi menjadi beberapa segmen, dan dalam tiap segmen tersebut disampaikan isu-isu yang berkaitan erat dengan topik utama. Alih-alih menyebabkan misfokus, isu-isu tersebut membuat kesimpulan yang disampaikan di akhir episode begitu berbobot. Pada tujuan untuk memberikan edukasi, menurut penulis “Institut Serba Indie” sudah sangat sukses melakukannya, dan besar harapannya dikemudian hari kasus penelantaran hewan di DIY semakin berkurang.
Tulisan telah diunggah di Instagram pada 5 Juli 2021